Sumbo Tinarbuko: Konsistensi Sang Gerilyawan Desain


‘’MENJADI BERMANFAAT ADALAH SEBUAH TUGAS BESAR BAGI MANUSIA. TAPI BERMANFAAT BELUM TENTU MENDATANGKAN KEKAYAAN. BAHKAN TAK JARANG HARUS SWADANA’’

Sumbo Tinarbuko dikenal sebagai dosen yang mengajar berbagai mata kuliah di berbagai kampus Jurusan Desain Komunikasi Visual dan Jurusan Komunikasi Periklanan. Dia mengajar mata kuliah Huruf dan Tipografi, Tinjauan Desain dan Kritik Desain Komunikasi Visual, Desain Komunikasi Visual I dan IV, Skripsi, Tugas Akhir Karya hingga Kajian Sosial Iklan dan Semiotika Komunikasi Visual.

Selain mengajar dan menulis buku, Sumbo Tinarbuko juga mendirikan Kantor Konsultan Desain ‘’Idercangkem’’. Tak ada niatan untuk beralih profesi ke bidang lain. Sumbo bertekad untuk tetap konsisten di dunia desain grafis dan desain komunikasi visual.

Walau merintis karier sebagai akademisi desain, lelaki ini juga pernah mengecap pengalaman sebagai praktisi desain dan akhirnya terjun sebagai konsultan. “Saya menikmati sebagai konsultan karena bisa menjadi akademisi sekaligus praktisi. Mengedukasi klien bagian dari sisi akademisi sementara membuat desain adalah pekerjaan praktisi,“ ujarnya samabil tertawa. Sumbo Tinarbuko memang pribadi yang unik. Seorang akademisi, praktisi dan konsultan yang memandang desain dari kacamata budaya.

Sebagai seorang akademisi, Sumbo Tinarbuko menilai makna desain sebagai bagian dari komunikasi visual adalah membuat sesuatu yang paling baru di antara yang terbaru. Karena jika sesuatu yang dianggap biasa maka keluarbiasaannya akan menjadi biasa. Kita anggap out of the box adalah hal yang luar biasa, maka semua pasti mengikutinya. Jika semua orang sudah melakukan maka hal tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Dosen mata kuliah Tinjauan Desain ini juga menegaskan bahwa seorang desainer komunikasi visual harus berperan sebagai penanda zaman. “Ketika desain kita sepakati sebagai bagian dari produk kebudayaan massa, maka desain bisa berfungsi sebagai penanda jiwa zaman dari sebuah kebudayaan peradaban modern. Tinggal bagaimana kita memberikan tanda yang baik pada zaman kita ini,” tegas pendiri Konsultan Desain Idercangkem ini.

Menurutnya ciri sebuah produk yang mampu menjadi penanda zaman adalah mampu tampil secara atraktif, komunikatif, dan persuasif. Kemudian dapat mencerdaskan masyarakat terkait dengan pesan verbal dan pesan visual yang ingin disampaikan. Keberadaannya bisa diterima secara ikhlas oleh masyarakat luas. Dan, yang terakhir, mampu mengikuti perkembangan hukum adat yang berlaku, menjunjung tinggi moralitas, serta mengedepankan kearifan budaya lokal.

Ditanya tentang rencananya di masa mendatang, Sumbo mengaku akan tetap menggeluti dunia desain. Baik itu sebagai akademisi maupun konsultan. “Saya berprinsip, ketika hidup, (kita-red) harus selalu membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Jadi saya akan tetap concerned untuk memberikan ruh-ruh baru bagi generasi muda agar melihat desain tidak hanya dalam perspektif artistik dan komunikasi, akan tetapi desain sebagain bagian dari hidup kita.”

Lelaki yang juga giat menulis di beberapa media massa ini mengaku pilihan hidupnya memiliki resiko tersendiri. “Untuk bisa memberikan sebuah perspektif yang baru, saya harus terus up to date agar bisa sesuai dengan zamannya. Dan ini harus dilakukan dengan modal sendiri karena memang tidak memiliki pendonor,” ungkapnya. Resiko inilah yang kemudian membuat Sumbo menyebut dirinya “Gerilyawan Desain”. Selain itu, menurut anggota Dewan Penasihat ADGI Pengda DIY ini, tak jarang pendapatnya bertumbukan dengan pendapat kawan-kawan lainnya. “Ketika melihat sesuatu, saya juga menggunakan perspektif kebudayaan. Dan ini agak berbeda dengan yang lain. Saya juga tidak main-main dengan hal yang ideal, itu sebabnya saya selalu berusaha independen,” tuturnya bersemangat.

Memang untuk berbeda membutuhkan lebih dari sekadar niat, tapi juga konsistensi sebagaimana yang dilakukan oleh Sang “Gerilyawan Desain” ini. (Irwansyah)

Sumber:  Rubrik ‘Personal Project Profil’ Majalah Desain Grafis Concept, Vol 06, Edisi 37 September – Oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *