Sumbo Tinarbuko: Kita Sudah ‘Kehilangan’ Ruang Publik

(Perbincangan ini dimuat harian Kedaulatan Rakyat Minggu 24/02/2008)

Kemana kita akan nongkrong di Yogya ini? Ketika pertanyaan dilontarkan, bukan hal yang mudah untuk menjawab. Meski di kota ini banyak tersebar cafe, mall namun kehadiran ruang publik yang mudah dan dapat diakses siapapun menurut Sumbo Tinarbuko, bukan hal yang mudah diketemukan. Pertanyaan apakah ada ruang publik di kota ini, bahkan bisa terungkap.

Apa yang terjadi ini memang bukan hanya fenomena Yogyakarta. Bisa dikatakan, keberadaan ruang publik di kota-kota di Indonesia, sangat minim. Padahal ruang ini diperlukan dalam pergaulan di tengah kesibukan kita sekarang.

Ketika ditanya bagaimana sebenarnnya konsep ruang publik ini Sumbo mengakui jika dikaitkan dengan pendekatan ilmu yang terkait, ia tidak mendalami. “Hanya karena saya terbiasa di jalanan, jadi anak jalanan (hahaaa….). Maka saya pikir titik kesalahan ada dari sisi perencanaan kota, yang sejak awal tidak menyediakan ruang publik bagi warganya,” katanya dengan serius.

Bukan bermaksud menghujat. Tetapi bagi pakar desain komunikasi visual ini, sebenarnya sekarang yang menjadi ruang publik itu adalah justru seperti konsep pasar. “Ketika ada orang-orang nongkrong, tempat enak untuk kongkow-kongkow, maka dikatakan sebagai ruang publik,” sebutnya.  Dalam amatan saya secara otodidak ini, lanjutnya, ruang publik tidak disediakan. Sehingga ketika ada orang berkerumun, misalnya di Yogya di Lempuyangan, maka lantas disitu dikatakan sebagai ruang publik.

“Kalau melihat sejarah ketika Belanda membuka sebuah daerah, mereka membuka daerah’kan sudah disiapkan mana yang untuk permukiman, mana yang untuk bisnis, sosial dan juga ruang publik. Sehingga lingkungan menjadi terjaga. Sementara, kita selalu trial and error atau karena keterpaksaan,” katanya dengan gelak.

Iapun menyebut membangun dengan sikap atau sifat dadakan itu sulit. Seperti memindah pertemuan beberapa orang yang disitu itu terjadi dengan perdagangan yang dinamakan pasar, ke tempat lain. Ini tidak akan pernah selesai. “Ekstrimnya, diperlukan ruang publik yang baru. Kalau itu tidak memungkinkan dan kemudian diperlukan tempat nongkrong, tentu adalah yang tidak mahal harganya,” ucap Sumbo Tinarbuko, suatu sore.

Bisa Anda menjelaskan maksud diperlukan ruang publik baru yang tidak mahal harganya tersebut?

Ini memang bisa lantas dipertanyakan dulu, mahal itu bagi siapa. Tetapi menurut saya, kalau itu untuk menengah ke bawah — karena sebagian besar warga ada di kelompok ini – ruang publik itu tidak mungkin yang dipahami sebagai tempat nongkrong yang mahal harganya. Kalau makan di situ masih diperlukan uang Rp 10 ribu, untuk Yogya ini masih dikatakan mahal. Namun kalau jajan hanya sekitar Rp 5 ribu, mungkin bisalah itu dikatakan sebagai ruang publik. Sehingga di sini, konsep sanja, kongkow-kongkow atau bahasa gaulnya sekarang adalah nongkrong, bisa terpenuhi. Yang terjadi justru, disitulah sumber segala penyakit muncul.

Apa akibatnya menurut Anda?

Akibatnya, ruang publik itu tidak betul-betul menjadi ruang publik. Tetapi kemudian akan jadi beberapa kepentingan terutama berkaitan dengan pengusaha. Ketika pasarane dadi atau banyak orang berkerumun, maka pihak bisnis yang melihat potensi akan berpikir perlunya ruang publik yang sedemikian rupa terutama dalam konteks modern, mall.

Anda ingin menyebut bahwa kita kehilangan ruang publik dan itu telah mengakibatkan munculnya penyakit masyarakat? Dan kalau ini tidak tertangani dengan baik, akan menjadi problem. Lantas menurut Anda, apa yang harus dilakukan?

Ya! Kita memang’sudah kehilangan’ ruang publik dan membuat munculnya penyakit masyarakat. Dan yang jelas, tentu kita mengacu pada pemerintah. Dan dalam hal ini dia harus menjadi pamong. Dalam beberapa hal, itu memang sudah dilakukan. Tetapi masyarakat yang kadang-kadang tidak bisa melihat itu sebagai sebuah usaha. Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Saya sendiri susah untuk mengemukakan. Karena apa yang terjadi ini sudah ruwet. Ini benang kusut. Menjadi pertanyaan saya, mengapa kita justru tidak mencoba mencontoh tradisi pasar tradisional. Di sana ada tradisi interaksi pembicaraan, nyang-nyangan antara laki-laki perempuan sebagai pedagang dengan konsumen sebagai pembelinya.

Bagaimana mau mencontoh, jika yang ada justru terjadi penggusuran pasar-pasar tradisional?

Ya itulah. Seringkali itu membuat kita semua prihatin. Paradigmanya masih menganggap bila pasar tradisional dianggap kotor, ndesa. Mengapa ini terjadi? Ya itu tadi, karena kita punya stigma bahwa yang baik yang modern itu datang dari Barat. Dan itu kalau dihubungkan dengan Jangka Jayabaya, Ramalan Ranggawarsita : pasar ilang kumandange menjadi pas.

Anda bisa menjelaskan?

Saya ingin mengajak, apakah ketika kita berbelanja ke mall, begitu masuk membawa troly sampai dengan membayar di kasir itu kita berbicara dengan yang lain? Bukankah kita mengambil barang dan memilih sendiri, tanpa ada yang melayani tanpa ada yang menyapa? Ini berarti memang pasar ilang kumandhange.

Meski mall itu dikatakan sebagai ruang publik, tapi menurut saya tidak bisa begitu saja. Karena di situ tidak ada dialog. Sebab yang namanya ruang publik mestinya’kan menjadi tempat sanja, di situ kita bisa nyek-nyekan dan lainnya. Dan kita melihat ini tidak bisa apa-apa. Sebab kita sekadar mimpi dan tidak bisa apa-apa. Bahkan mimpi itupun tidak pernah terwujud. Ketika ruang publik tidak dapat diakses siapapun, masyarakat akan sakit.

Menarik apa yang Anda sampaikan. Jika demikian, lantas pelajaran apa yang dapat kita petik dari semua ini?

Kuncinya ada dua yakni kembalikan proses pendidikan itu tidak hanya pendidikan namun juga pengajaran. Selama ini kita hanya mendidik. Karena hanya mendidik, maka orientasinya adalah nilai. Sehingga yang terjadi kita hanya instant. Tetapi untuk membuat mi instant saja kita ndandakke. Padahal ketika pendidikan dan pengajaran itu disatukan, maka sebenarnya otak kiri dan otak kanan akan sinkron, hati dan pikiran juga akan selaras.

Kalau dalam agama saya ada salib, ada cross. Di sini ada bagaimana berhubungan dengan manusia lain dan kemudian juga dengan Tuhan. Yah… dalam Islam ada hablum minallah dan hablum minnanash. Ketika itu tidak hanya dipahami namun juga dipraktikkan, pasti ada perubahan.

Apa makna dari semua ini?

Kalau pendidikan dan pengajaran bisa disatukan, pergerakan kuncinya adalah pada dosen, guru dan orangtua. Meski tidak berprofesi sebagai guru, dosen tapi dia adalah guru paling tidak untuk keluarga, guru untuk masyarakatnya. Nah……….. guru di sini tidak harus diartikan sebagai pegawai yang mengajar.

Saya pikir, kalau kita menggunakan Budaya Jawa, sesungguhnya kita lebih modern daripada orang-orang yang sekarang disebut modern.

Dalam Budaya Jawa, konsep tentang hubungan ketuhanan, kemanusiaan, antara orangtua-anak, orangtua-guru, anak-anak pelajar-guru, rakyat-raja dan lainnya, sudah diatur tersendiri. Tetapi apa yang terjadi? Kita ini gampang terhasut oleh sesuatu yang dikatakan modern. Saya ingin bertanya, Candi Borobudur itu modern atau tidak? Batik itu modern atau tidak? Dalam batik, sebelum ada zat-zat kimia kita sudah membuat warna dengan teknologi yang diciptakan Tuhan.

Adalah sesuatu yang mengerikan, ketika hati nurani sudah hilang, Karena semua ini hanya akan memunculkan degradasi moral. Dan ternyata penyakit degradasi inilah yang membuat Sumbo begitu tertarik dengan persoalan-persoalan ini dan membuat kepeduliannya pada sekitarnya menjadi tinggi. “Diawali dari adanya warisan penyakit diabetes pada usia 39 tahun. Waktu itu saya sempat protes kepada Tuhan, mengapa diberi cobaan yang tidak masuk akal, diabetus mellitus. Salahku apa?” papar Sumbo suatu sore. Dan kondisinya menjadi’makin parah’ ketika dokter mengatakan bila penyakitnya tidak dapat disembuhkan.

Ketika’kesadarannya’ muncul iapun lantas ‘mengawinkan’ penyakit tersebut. Cara itu membuat bapak 2 anak ini mengambil makna: “Tuhan itu selalu punya rencana”. Tetapi mengapa tidak pernah mendengar dan mempelajari hal itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menelisik di hati. Yang kemudian terjadi adalah kembali mendalami pelajaran agama dan kembali ke gereja.

“Saya merasakan, Tuhan mengingatkan saya dengan diabetus mellitus,’ ujar Sumbo yang kemudian juga menekuni spiritual meditasi. Dan perjalanan hidupnya kemudian menyimpulkan bila otak kanan dan kiri harus diseleraskan, olah rasa dikelola sehingga menikmati hidup dengan pasrah tetapi bukan nglokro.

Sebagai orang yang memiliki ketertarikan pada masalah ruang publik, visual di ruang publik, bagaimana Anda melihat Yogya dibanding Jakarta, Singapura dan juga kota-kota besar dunia? Apakah memang ini akibat globalisasi atau karena’kehilangan identitas’ karena kota-kota ini kesannya memang menjadi tidak berbeda?.

Saya lebih suka mengatakan, masyarakat Yogya kalah pintar dengan unta. Mengapa? Karena unta tidak pernah terperosok keduakali. Pertanyaannya: “Apa awake dhewe goblog?” Yogya itu daerah istimewa, ditakdirkan Sri Sultan HB IX sebagai daerah istimewa. Mengapa kita tidak punya keunikan? Kita ingin dikatakan modern, terus membangun semua ala Jakarta.

Mestinya, warga yang masuk ke Yogya itu memberikan kontribusi pada Yogya, tidak mengubah Yogya seperti yang dimauinya. Nah…. ini bisa dikatakan lho, bahwa yang jahat adalah pendatang. Ibaratnya mahasiswa KKN yang tidak biasa buang air besar di sungai lantas kemudian memasang kloset duduk yang dianggap modern. Usai KKN berlalu, apakah masyarakat desa lokasi akan menggunakan itu?

Kemudian yang menjadi pertanyaan, mengapa kita menghilangkan kearifan lokal yang sangat modern? Sebab kita sudah menjadi bangsa konsumen. Sehingga, ikon-ikon Yogya menjadi hilang, semua billboard, kehijauan hilang.

Tetapi Anda adalah salah seorang yang mengajarkan membuat desain iklan. Bagaimana Anda mengatakan semua itu?

Ya, saya adalah salah satu yang mendidik orang membuat iklan. Tetapi yang saya permasalahkan adalah titik-titik penempatan yang bubrah, tidak iklannya.

Bisa dijelaskan?

Teorinya, ketika media ruang dipasangi, disitu harus ada kemacetan. Kalau tidak ada keramaian diciptakan keramaian supaya itu terlihat. Dalam teorinya, ada pelbagai macam strategi hal itu dilakukan, supaya dagangan laku. Yogya, tidak dapat ditumbuhi media ruang yang sedemikian dahsyat. Karena Kota Yogya itu kecil, hanya 32 km2. Meski kemudian Yogya sudah ada perbaikan sedemikian rupa, tetapi kawan-kawan pengiklan, brooker iklan dan lainnya sangat pintar mencari celah. Belum lagi yang liar.

Maksudnya?

Yogya sudah mulai menanam pohon, tapi masih banyak pohon yang dipaku, ditaleni (diikat) dengan bendrad. Ini sudah merusak tubuh pohon. Sekali lagi yang saya persoalkan adalah titik. Karena itu, marilah kita saling tidak egois, tidak hanya berfikir rasional/ekonomis. Dengan demikian Yogya akan memiliki ciri khas. Silakan ada billboard, tapi mbok iya-o, billboard yang njogjani. Kalau setahun ada 12 bulan, mbok iya-o, yang 1 bulan itu produsen pasang iklan layanan masyarakat (ILM). Sekarang ini yang kita lihat’kan saling bersaing, saling mengungguli. Kita melihat’iklan perang’ dan ini menjadi pendidikan buruk bagi masyarakat.

Pendidikan buruk, apa artinya?

Pendidikan buruk bagi masyarakat karena di situ benar-benar tidak ada Budaya Jawa. Bahkan tak ada lagi sanepa disitu. Sedihnya, orang Yogya tidak lagi mengenal sanepa lagi. Bahkan kalau orang diperingatkan dengan sanepa sudah tidak tahu. Karena mereka itu kurangajar, ajare kurang, meski tidak nakal. Ironisnya, sekarang banyak orang berpendidikan itu kurangajar. Buktinya, imajinasinya rendah dan bahkan tak bisa membayangkan apapun. Kreativitas adalah copy paste. Kalau bisa ngakali luar biasa senangnya. Bisa dikatakan, kita sedang mengalami masa kegelapan.

Meski ikon sudah hilang, bagaimana perasaan Anda ketika dari luar DIY masuk ke Yogya, adakah yang terasa lain?

Kalau dari segi atau sisi geografi, tidak ada. Yang membedakan kalau dari Jakarta ke Yogya itu bisa mlaku alon-alon. Jika soal harga mahal, kekerasannya sudah sama. Dengan alon-alon itu, masih ada aura ayem. (Fadmi Sustiwi)-c

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *