SUMBO TINARBUKO: Bikin EO Salah Tingkah

(Wawancara ini dimuat di Harian Jogja, Sabtu 11 Maret 2017)

Belum lama ini, Penggagas Gerakan Reresik Sampah Visual Jogja Sumbo Tinarbuko, bertemu ‘musuh bebuyutannya’ secara tak sengaja dalam sebuah acara diskusi.

Saat itu, Dosen Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu diundang dalam sebuah diskusi publik yang digelar Lembaga Ombudsman Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam diskusi yang mengangkat tema Menyorot Fenomena Iklan Seminar Bisnis itu, ia bertemu sejumlah dedengkot event organizer Jogja yang selama ini dianggap ‘musuh’ gerakan yang ia gagas. Sebab, EO kerapkali menebar sampah visual di Kota Gudeg saat mempromosikan acara yang akan mereka helat.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, seketika itu juga ia menegur ‘musuh bebuyutannya’ itu. ‘’Sebagai warga, Anda seharusnya juga ikut menjaga lingkungan. Jangan merusak estetika kota dengan iklan-iklan. Anda jangan hanya mementingkan kepentingan bisnis pribadi dong,’’ kata Sumbo mengenang kejadian pada akhir Februari lalu, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (10/3/2017).

Merasa tepergok oleh aktivis Reresik Sampah Visual, perwakilan EO hanya cengar-cengir mendapat teguran dari Sumbo. Mereka tak membantah tapi juga tak juga mengiyakan, hanya tawa canggung saja tersungging dari bibir perwakilan EO itu.

Teguran tersebut sama sekali tak direncanakan Sumbo. Doktor Ilmu Humaniora FIB UGM yang mengangkat disertasi mengenai analisis semiotika tanda verbal dan tanda visual iklan layanan masyarakat itu diundang sebagai pembicara diskusi. Ternyata diskusi itu juga mengundang perwakilan para EO penyelenggara seminar bisnis.

Beberapa EO inilah yang dalam catatan Sumbo menjadi pelaku penyebar sampah visual iklan komersial di sudut-sudut Kota Jogja saat mempromosikan acara yang mereka selenggarakan. Menurut Sumbo, persoalan sampah visual berupa iklan luar ruang seperti rontek, spanduk, umbul-umbul, poster, billboard dan baliho di Jogja seharusnya sudah selesai sejak dibuat Peraturan Daerah No. 2/2015 tentang Penyelenggaraan Reklame.

Namun sudah dua tahun sejak Perda itu diketok parlemen daerah, masih banyak iklan luar ruang yang dipasang di tempat terlarang. Padahal, pemasangan iklan luar ruang dengan tanpa memperhatikan estetika lingkungan, justru akan memunculkan kesan Jogja tidak lagi ramah dan toleran sebagai Kota Budaya. Sampah visual menurutnya juga mengurangi nilai keistimewaan DIY. Sebab menurut dia, nilai keistimewaan sejatinya berkorelasi dengan terwujudnya ruang publik yang bebas dari teror visual. (I Ketut Sawitra Mustika)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *