(Pendopo Karta Pustaka Jogja, 17-19 Juni 2010:) Pameran Karya Desain Sosial ‘Kids Carenival’

Pengantar Pameran Karya Desain Sosial ‘Kids Carenival’ 17-19 Juni 2010:

Anak, Pelita Zaman

Sumbo Tinarbuko

Anak adalah pelita zaman. Karena kehadiran seorang anak, maka kehidupan peradaban manusia dunia ini berlangsung terus menerus hingga hari ini. Sayangnya, sebagai pelita zaman, kondisi anak-anak di Indonesia dibiarkan tumbuh berkembang dengan sendirinya. Mereka jarang dibelai dengan kehangatan ayah bundanya. Mereka justru dibiarkan mendapatkan belaian kasih sayang dari televisi. Mereka lebih memercayai televisi sebagai orang tua baru yang patut dipercaya semua perintah dan sabdanya ketimbang orang tua kandungnya sendiri.

Selain kepada televisi, orang tua yang supersibuk bekerja di luar rumah, memercayakan segala hal terkit dengan pendidikan kepada sekolah formal. Akibatnya, orangtua cenderung permisif dalam pola didik dan pola asuh terhadap anak-anaknya. Itu terjadi, karena mereka disibukkan mencari nafkah duniawi demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Orientasinya: bagaimana mencari uang, mendapatkan uang, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Pada titik ini, para orangtua cenderung berpandangan sempit. Dalam benaknya, selama kebutuhan finansial yang diperlukan anak-anaknya terpenuhi, maka tugas sebagai orangtua sudah selesai.

Pada sudut lain, sang pelita zaman pun tidak segera disematkan akte kelahirannya sebagai piranti identitas diri yang sah di mata hukum. Ironisnya lagi, kesehatan sang pelita zaman juga luput dari perhatian orang tua dan pemerintah. Demikian pula dengan asupan gizi yang menjadi hak paling mendasar sang anak, itu pun cenderung dikesampingkan, karena orang tuanya tidak mampu memberikan makan yang berkecukupan gizi, akibat kemiskinan yang mendera hidup dan kehidupannya.

Atas nama kemiskinan itu pulalah, banyak orang tua yang tega menjual anaknya hanya agar para orang tua mampu mempertahankan hidupnya. Kemiskinan pulalah menjadi payung jahanam yang menyebabkan anak-anak usia produktif lari ke jalan raya. Mereka menjadi anak jalanan yang menantang sekaligus menyerahkan diri ke dalam berbagai bentuk kekerasan jalanan.

Jika fenomena semacam ini dibiarkan begitu saja, akan memunculkan kecemburuan sosial. Sayangnya pemerintah tidak tanggap memahami kondisi sosial, budaya, dan ekonomi rakyat yang dipimpinnya. Pemerintah dalam menjalankan kebijakkannya terkesan setengah hati mengupayakan kesejahteraan masyarakat. Realitasnya, justru menimbulkan kesenjangan sosial yang panjang melingkar. Dalam konteks ini, masyarakat dibiarkan lapar perutnya dan dahaga pikirannya.

Lapar perutnya terjadi karena mereka secara ekonomi tidak berdaya untuk memberdayakan hidupnya. Untuk makan kenyang, bagi mereka adalah sebuah kemustahilan. Ketika lapar perut tidak pernah terselesaikan secara manusiawi, emosi sang lapar pun selalu membahana ke mana-mana. Sebaliknya ketika perut kenyang, logika dan perasaannya dapat dikelola lebih bijaksana. Maka solusi sederhananya, kenyangkan dulu lapar perut warga masyarakat, setelah itu ajaklah mereka melakukan aktivitas yang berujung pada sebuah tindakan proaktif dan produktif untuk memuliakan kemanusiaan masyarakat.

Sementara itu dahaga pikiran dapat dituntaskan dengan memberikan ‘minuman’ semua pengetahuan yang disemaikan lewat jalur pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan seyogianya diposisikan sebagai bagian dari investasi meningkatkan wawasan dan intelektualitas masyarakat. Pendidikan yang mengajarkan keseimbangan raga, mental dan spiritual diyakini mendewasakan peserta pendidikan dalam berkarya nyata di tengah masyarakat. Garansinya, semakin banyak masyarakat menempuh pendidikan yang mampu memerdekakan nalar perasaan dan akal pikirannya, maka mereka selalu berupaya menghidupi kehidupan ini dengan penuh kemuliaan, bukannya mematikan kehidupan ini dengan berbagai kematian akal pikiran dan nalar perasaan.

Oleh karena itu, guna meminimalisir kesenjangan sosial yang menggejala di tengah masyarakat, perlu disegerakan ketuntasan lapar perut dan dahaga pemikiran. Untuk menuntaskan keduanya, segeralah dibangun kesepahaman dalam berkomunikasi antara pemerintah, pejabat publik dengan warga masyarakat. Semuanya itu wajib dilakukan agar terjalin hidup dan kehidupan damai sejahtera yang realitas sosialnya sangat didambakan rakyat Indonesia.

‘Kids Carenival’

Terkait dengan hal itu, Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta yang merupakan salah satu pendidikan tinggi desain yang menjadi andalan kota Yogyakarta, tidak pernah lepas memberikan kontribusi positifnya dengan senantiasa memberikan warta gembira berbentuk karya desain komunikasi visual kepada seluruh masyarakat Indonesia terkait dengan anak sebagai pelita zaman

Segenap mahasiswa dan dosen mata kuliah Desain Komunikasi Visual IV, Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta yang tergabung dalam pameran komunikasi visual bertajuk ‘Kids Carenival’ bahu membahu ikut dan berperan serta mewujudkan kesepahaman bersama bahwa anak sebagai pelita zaman.

Pemilihan juluk ‘Kids Carenival’ sendiri diambil dari kata ‘Kids’, yang diartikan sebagai anak-anak, dan kata ‘Care+Nival’, merupakan plesetan dari kata ‘Carnival’ yang memiliki makna sebuah wadah acara berisi berbagai hal tentang anak dalam lingkup desain komunikasi visual. Kemudian sengaja dibuat menjadi ‘Carenival’ karena ingin menojolkan kata’Care’ (peduli). Dalam konteks ini tentu saja yang dikedepankan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepedulian terhadap anak. Sebab anak adalah pelita zaman.

Ada sekitar seratus karya desain sosial yang berasal dari tigabelas kelompok mahasiswa Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta yang dipamerkan di Pendopo Karta Pustaka Jl. Bintaran Tengah No. 16 Yogyakarta, di antaranya: Lobangpanjang (Hendy Ciputra, Natalia Dewi R.P, Nuria Indah Kurnia Dewi, Rudy Ristanto), Bunga Bangkai Group (Eko Bambang W, Fredi Cahyono, Roby Akbari, Mirah Hapsari), Sewon Permai (Asharudin Muslim, Tredi Korniawan, Indra Prihantoro, Akbar Annasher, Ahmad Fikri A), Ta’lim Boyz (Adeta Eryantara, Hasanudin F.R, Mara Widya Aribawa, Gilang Nurfajri), de Graphein (Anggun Wijayana, Valentinus Kurnia, B. Jati Pradipta), Belajar Autis 07 (Elsera Vanda, Handika Ardhi F, Achmad Taufiq B.R.), nDok Horn (Adam Valian, Indriati Suci, Priyo Wicaksono, Herda Cahya Mustika), Darah Berdarah (Asief Akbar Wirawan, Bekti Kurniawan, Yusuf Andityo), Big Food (Arif Ginanjar Kurniawan, Agust Pratama Hendra K.H, Arya Manggala, Riky Yuda Pratama, Aditya Febrianto), Anak Emas (Riyo Ramadhan, Langgeng Nur Santoso, Gustopo Galang, Riswanto), Singo Bantul (Anggit Kunto, S. Ricky Sandi, Ahmad Muarif), Empatsatu (Sekar Datri M, Soni Prasetyomo, Ferry Arwiz, Pratiwi Utami, Tiwi Apriani), Ultramans( Fuadi Nur, Bangkit Ristanto, Syarifah Fitrianan, Endro Kustono).

Pameran karya proses mahasiswa yang telah mengikuti mata kuliah Desain Komunikasi Visual IV, Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta ini didedikasikan untuk membantu mewujudkan harapan anak sebagai pelita zaman.

Selain itu, pameran ini juga diposisikan sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta kepada masyarakat luas terkait dengan proses belajar mengajar yang berlangsung selama ini.

Di sisi lain, parameter keberhasilan sebuah proses kreatif dan inovatif di lingkungan pendidikan tinggi desain komunikasi visual (desain grafis) bisa dilihat manakala para peserta didik mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap pemecahan masalah komunikasi (verbal dan visual), lancar dan orisinal dalam berpikir kreatif, fleksibel dan konseptual, cepat mendefinisikan dan mengelaborasi berbagai macam persoalan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di segala lini hidup dan kehidupan ini.

Pameran ‘Kids Carenival’ ini menjadi menarik karena mampu menyosialisasikan wacana desain komunikasi visual dalam bentuk karya desain yang riil dan diakrabi oleh masyarakat. Artinya, masyarakat selama ini hanya mengetahui hasil akhir dari sebuah karya desain komunikasi visual. Lewat pameran ini, khalayak luas disuguhi narasi proses terjadinya sebuah karya desain komunikasi visual yang melibatkan unsur: tipografi (teks verbal), ilustrasi, lay out dan komposisi, yang dikemas menggunakan komputer grafis yang hasil akhirnya mampu menyuarakan pesan komunikasi visual yang unik, komunikatif, dan persuasif.

Dalam aktivitas pameran ‘Kids Carenival’ ini, selain menghidupkan kembali tradisi pameran desain komunikasi visual yang sekarang ini semakin jarang diselenggarakan, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta mencoba memosisikan desain komunikasi visual sebagi sebuah subjek yang secara terus menerus akan ditindaklanjuti sebagai sebuah proses mewacanakan desain komunikasi visual.

Sebagai sebuah karya proses maka tentu dengan segala kerendahan hati mereka: dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta, perlu berkaca diri, memohon kepada masyarakat luas dan dunia industri kreatif untuk memberikan penilaian, melontarkan kritik dan saran agar mereka lebih matang ketika terjun ke universitas masyarakat yang sangat kompleks dan dahsyat ini.

Selamat berpameran. Semoga dengan pameran desain komunikasi visual ‘Kids Carenival’ yang digelar 17-19 Juni 2010 ini dapat memberikan semangat kebaruan. Semangat semacam itu

perlu dikedepankan karena sejatinya di dalam desain komunikasi visual selalu berupaya memecahkan masalah komunikasi visual untuk menghasilkan karya desain komunikasi visual yang paling baru diantara karya desain komunikasi visual yang terbaru.

Sebagai teman yang menemani anda selama menempuh mata kuliah Desain Komunikasi Visual IV, saya menyambut baik prakarsa penyelenggaraan pameran desain komunikasi visual ‘Kids Carenival’. Pameran desain komunikasi visual ‘Kids Carenival’ seperti ini, saya nilai sebagai sebuah langkah yang cukup berani untuk memberikan apresiasi kepada khalayak luas tentang keberadaan disiplin ilmu desain komunikasi visual yang sangat luas cakupan, capaian, dan jangkauan aplikasinya.

Sekali lagi slamat pameran sembari menyalakan cahaya bintang dan kunang-kunang di antara ‘kegelapan’ masyarakat yang selama ini masih mengalami ‘kegelapan’ dalam konteks hidup dan kehidupannya sehari-hari.

*)Sumbo Tinarbuko, Konsultan Desain dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.

Poster Pameran Karya Desain SosialKids Carenival

Pameran Karya Desain Sosial ‘Kids Carenival’


Artikel yang berhubungan :

  1. Pameran Diskomplet Desember 2009: Menjadikan 100% Karya DeKaVe Indonesia
  2. Perkawinan Tipografi dan Nirmana dalam Ranah Readibilitas Legibilitas
  3. Diluncurkan Buku #2 Sumbo Tinarbuko ‘‘Mata Hati Iklan Indonesia, Esai Sosial Budaya Periklanan Indonesia‘‘
  4. Kapan Kembali Ke Jogja?
  5. DeKaVe Penanda Jiwa Zaman
  6. Peluncuran Buku Ketiga Sumbo Tinarbuko ‘’Iklan Politik dalam Realitas Media’’

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>