Kegiatan tahunan Diskomfest kembali digelar oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Penyelenggaraan Diskomfest 2010 ini memasuki penyelenggaraan yang kali ke empat.
Berbagai acara diselenggarakan untuk mengisi Diskomfest 2010 ini antara lain meluncurkan buku komik Kotagede, Minggu (18/10), selain itu juga akan diselenggarakan karnaval kostum di Titik Nol Kilometer-Taman Budaya Yogyakarta pada, desain gratis, motion war serta pentas musik pada 24-30 November akan datang.
Tema pelaksanaan Diskomfest 2010 adalah “Culture X-Pansion”. Tema ini salah satunya dihadirkan dalam kegiatan pembuatan komik “Kotagede Dalam Komik’ dimana mahasiswa Diskomvis terjun ke kampung Pekaten Kotagede Yogyakarta sejak tiga bulan yang lalu untuk melakukan penelitian sejarah kampung tersebut.
Kemudian pada 11-17 Oktober, mereka mulai mengerjakan pembuatan gambar komik sejarah kampung Pekaten Kotagede dan Minggu (18/10) komik tersebut diluncurkan kepada masyarakat. Komik Kotagede Dalam Komik ini diterbitkan oleh Studio Desain Komunikasi ISI Yogyakarta dan penerbit Jalasutra Yogyakarta berisi 12 judul cerita beragam yang berasal dari warga kampong Pekaten Kotagede Yogyakarta.
Staf Pengajar Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko menjelaskan interaksi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (Diskomvis) dengan masyarakat secara langsung untuk mengolah pesan serta rasa untuk terjun dalam masyarakat.
“Diskomfest hadir untuk membantu masyarakat dalam mengemas promosi pariwisata budaya melalui karya yang sesuai dengan khalayak,” kata Sumbo Tinarbuko.
Selain peluncuran komik, sebanyak 12 mahasiswa Diskomvis ISI Yogyakarta juga membuat 20 sistem tanda di kampung Pekaten yang menghadirkan lokalitas dengan ciri khas masing-masing. Penanda ini berwarna hijau dan kuning menjadi warna acuan pada sistem penanda karena dua warna ini adalah warna-warna yang sangat dekat dengan Kotagede sebagai bekas kerajaan Mataram ini.
Sumbo Tinarbuko menjelaskan buku Kotagede Dalam Komik ini berukuran kecil tapi cukup komplit. Gambar yang diciptakan menggunakan symbol yang halus dan mengedepankan keindahan, komunikatif dan sederhana. Komik Kotagede Dalam Komik ini mempunyai sebanyak 150 halaman dan mewakili empat tema besar yaitu perajin, pedagang, pekerja seni serta kuliner Kotagede.
Mahasiswa Diskomvis kemudian membuat pemahaman tentang hasil wawancara dalam bahasa gambar bahasa garis dan gambar. “ Komik ini bisa menjadi catatan sejarah Kotagede karena penelitiannya melibatkan warga masyarakat yang benar-benar paham dengan situasi kampong,” ujar Sumbo Tinarbuko.
“Saya sangat berharap warga kampung lain di Kotagede bisa diajak bekerjasama untuk mewujudkan proyek pembuatan komik seperti ini,” tambah Sumbo Tinarbuko (joe).
Sumber: Jogjanews.com, 20 Oktober 2010 | 14:49
Artikel yang berhubungan :
- Melawan Penjajahan Simbol
- DiskomFest #3 DKV FSR ISI Yogyakarta: “Ring of Fire”
- Peluncuran Buku Ketiga Sumbo Tinarbuko ‘’Iklan Politik dalam Realitas Media’’
- (Pendopo Karta Pustaka Jogja, 17-19 Juni 2010:) Pameran Karya Desain Sosial ‘Kids Carenival’
- Pameran Desain Promosi Pariwisata DIY ‘Mariwisata’: Pariwisata Yogya Versi Mahasiswa Seni
- Pameran Desain Sosial: Kids Carenival, Wujud Peduli Anak