POTENSI wisata DIY dalam pandangan mahasiswa? ternyata unik. Dalam garapan para mahasiswa, beragam objek wisata diolah dengan berbagai kreativitas. Mulai dari katalog, suvenir, T Shirt sampai miniatur.
‘’Memberi inspirasi untuk promosi wisata Yogya,’’ kata Yeti Martanti, staf bagian promosi Dinas Pariwisata Kota Yogya, Selasa (21/6) malam, disela-sela menyaksikan acara pembukaan pameran mahasiswa, Desain Komunikasi Visual ISI Yogya ’’Mariwisata, Pariwisata Yogyakarta’’ di Bentara Budaya Yogyakarta, 21-23 Juni. Acara ini dilakukan secara swadana, dibuka dengan pengecapan stempel Mariwisata oleh Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat, Octo Lampito didampingi Sumbo Tinarbuko dan Wibowo (Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogya).
‘’Sebelum mengerjakan, mereka harus survei objek lokasi. Sehingga ketika dibuat karya sudah ada gambaran,’’ kata Sumbo Tinarbuko, dosen pembimbing karya pameran ISI Yogyakarta. Salah satu di antaranya, Gua Kiskendo di Kulonprogo, dibuat lengkap dengan ikon berupa monyet. Ini senyampang dengan cerita dalam dunia pewayangan Sugriwa. Atau kampung Pecinan di bersebelahan dengan pasar Beringharjo, ditampillan dengan desein unik dan menarik.
‘’Pariwisata di Yogya sangat banyak, jika dikembangkan dengan baik akan membuka lapangan kerja. Untuk itu, pameran ini mampu menjadi jembatan untuk memadukan dunia wisata dengan pendidikan. Sebuah sinergi yang hasilnya akan luar biasa karena mampu memberi kemajuan dan dorongan pesat baik untuk peserta didik, pelaku usaha atau masyarakat luas,’’ kata Octo saat pembukaan pameran, Selasa (21/6).
Untuk itu, melalui pameran ini kita juga bisa menyaksikan bagaimana mahasiswa ISI Yogya mengemas aset lokal DIY dengan berbagai kreativitas yang ada. Membuat berbagai kemasan mulai dari booklet hingga souvenir khas daerah masing-masing. Kemasan yang tidak monoton tapi unik dengan membuat ilustrasi digital, kartun dan sebagainya. Menonjolkan aset wisata yang sudah atau sedang coba dimunculkan sebagai alternatif liburan, sehingga mampu mendukung program pariwisata yang digalakkan pemerintah agar lebih menarik.
‘’Pameran ini secara visual sangat menarik. Memunculkan berbagai kreativitas yang berbeda, berkarakter dan unik. Bahkan bisa menjadi salah satu pemacu agar kreativitas mahasiswa agar terus berkembang,’’ jelas Diajeng Kota Yogya 2011, Raina Adwitiya Gayatri. Ditambahkan Dimas Kota Yogya 2011, Syuhada Dermawan Arifin, setiap ide yang dimunculkan mahasiswa harus up date dengan perkembangan informasi yang ada. Karena di satu sisi juga sebagai upaya untuk mengeksplore kondisi wisata yang ada.
‘’Karya-karya ini mempunyai tanda berbentuk pesan verbal dan visual. Merujuk pada teks yang penyajiaannya mengandung ikon dan berfungsi dalam sistem non kebahasaan. Untuk itu, desain komunikasi visual layak disikapi secara proaktif sesuai konteksnya,’’ jelas Sumbo.(M-2)
Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 22/06/2011 05:28:32
Artikel yang berhubungan :
- Sumbo Tinarbuko: Pameran Tinjauan Desain Lewat Jejaring Sosial
- Pameran Desain Sosial: Kids Carenival, Wujud Peduli Anak
- Pameran Diskomplet Desember 2009: Menjadikan 100% Karya DeKaVe Indonesia
- (Pendopo Karta Pustaka Jogja, 17-19 Juni 2010:) Pameran Karya Desain Sosial ‘Kids Carenival’
- Wisata Wisuda di Yogyakarta
- Kapan Kembali Ke Jogja?