(Analisis KR) Kampanye Kreatif Bahaya Narkoba

Dr Sumbo Tinarbuko

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbuka di Kantor Presiden Jakarta, seperti dikutip Harian Kedaulatan Rakyat (25/2/2016), membahas masalah narkoba. Pembahasan tersebut dianggap penting, karena angka penyalahgunaan narkoba mencapai 5 juta. Hal penting lainnya, jumlah penduduk yang besar, oleh sindikat narkoba internasional, diposisikan sebagai pasar potensial di kawasan Asia Tenggara.

Atas dasar itulah, Presiden Joko Widodo menginginkan disusun langkah konkret guna memberantas narkoba. ‘’Harus ada langkah-langkah pemberantasan narkoba yang lebih gila, gencar, dan berani. Lebih komprehensif dan terpadu,’’ tegas Presiden. Ditambahkannya, langkah terpadu dan komprehensif itu, pertama, BNN, Polri, TNI, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Dirjen Bea dan Cukai, harus bergerak bersama, bersinergi. Kedua, nyatakan perang terhadap Bandar dan jaringan narkoba, ‘’Tapi juga penanganan hukum itu harus keras, lebih tegas lagi pada jaringan- jaringan yang terlibat’’.

Ketiga, lanjut Presiden, tutup semua celah penyelundupan narkoba karena narkoba sudah merasuk ke mana-mana. Keempat, Presiden berharap agar digencarkan kampanye kreatif bahaya narkoba. Kelima, Presiden mengingatkan perlu ditingkatkan pengawasan yang ketat pada lapas, sehingga lapas tidak dijadikan pusat penyebaran dan peredaran narkoba. Keenam, Presiden mengharapkan program rehabilitasi penyalahgunaan dan pecandu narkoba berjalan baik, ‘’Programnya harus berjalan efektif, sehingga rantai penyalahgunaan narkoba bias betul-betul terputus’’.

Berdasar hasil rapat terbuka yang digelar Presiden Joko Widodo terkait masalah narkoba, tulisan ini mengerucut pada harapan orang nomer satu di Indonesia perihal kampanye kreatif bahaya narkoba.

Pertanyaannya, kenapa Presiden Joko Widodo mengharapkan kampanye kreatif bahaya narkoba berjalan secara terpadu dan komprehensif? Harus diakui, secara kasatmata dapat disaksikan sejumlah karya komunikasi visual dan iklan layanan masyarakat yang memuat pesan bahaya narkoba, terpasang di berbagai sudut kota. Realitas media (media massa cetak dan elektronik) juga mencatat tayangan dan pancangan kampanye bahaya narkoba yang dipaksa memasuki relung kalbu masyarakat.

Realitas sosial dan realitas media telah memaparkan fakta pesebaran kampanye bahaya narkoba. Sayangnya, pemanfaatan media komunikasi visual dan iklan layanan masyarakat untuk kampanye bahaya narkoba tidak diikuti upaya pemecahan masalah komunikasi visual. Artinya, konsep kreatif kampanye bahaya narkoba tidak melibatkan pemikiran perencanaan strategi kreatif berdasarkan permasalahan yang ada. Representasi komunikasi visual yang mewadahi pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba hanya ditampilkan ala kadarnya. Membosankan dan tidak mampu mengedukasi target sasaran.

Sering juga dijumpai pesan komunikasi visual kampanye bahaya narkoba hadir dengan penyajian bersifat paritas. Keberadaannya kurang menghadirkan daya ganggu atas keberlangsungan kampanye bahaya narkoba. Secara visual, terkesan tampil sporadis. Ditilik dari perencanaan strategi kreatif tidak terjalin benang merah antara perwujudan pesan komunikasi visual yang satu dengan lainnya. Dampak visualnya, pada waktu bersamaan masyarakat menyaksikan pesan yang berbeda atas pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba.

Lebih membosankan lagi, tampilan komunikasi visual kampanye bahaya narkoba senantiasa menyajikan fragmen vsual pengguna narkoba lengkap dengan asesorisnya. Antara lain: jarum suntik, bong penghisap, lintingan rokok, dan daun ganja. Dihadirkan juga secara realis fotografis berbagai macam pil surga, terali besi penjara, borgol, rumah sakit, kuburan dan tengkorak. Dengan visualisasi pesan verbal dan pesan visual yang ceriwis dan mengedepankan pendekatan negativisme ini, dampak komunikasinya justru antiklimaks. Artinya target sasaran yang dituju merasa tidak menjadi sasaran kampanye bahaya narkoba. Hal itu mengemuka, karena mereka tidak mendapatkan sesuatu atas pesan verbal dan pesan visual kampanye bahaya narkoba yang disampaikan oleh para komunikator. Dengan demikian, kampanye bahaya narkoba menjadi kurang berarti.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah yang peduli atas fenomena tersebut di atas?

*) Dr Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Rabu Legi, 2 Maret 2016 | Instagram @sumbotinarbuko | Twitter @sumbotinarbuko

(OPINI KOMPAS) Menjadi Penonton Jokowi

Oleh Sumbo Tinarbuko

Melihat Jokowi yang terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, bagaikan melihat tontonan pertandingan sepak bola Piala Dunia. Pertandingan tersebut, melibatkan negara peserta dan klub sepak bola terkenal. Selain itu, aspek keterlibatan penonton. Mereka  terkadang suka menaikkan kasta dirinya menjadi komentator atau pengamat  laga sepak bola. Realitas sosialnya: keberadaan mereka lebih heboh dibandingkan permainan para pesepak bola profesional di lapangan hijau.

Keseriusan penonton menjadi hal sangat serius. Kenapa? Karena mereka menganggap dirinya lebih paham a – z dunia persepakbolaan. Bahkan mereka mampu meramalkan gol yang akan tercipta, meski pertandingan belum berlangsung.

Di sudut lainnya, para penonton menjadi sangat agresif saat menorehkan pengamatan dan komentarnya di media sosial. Mereka seakan menjadi pemain profesional yang berlaga di lapangan hijau. Mereka mencemooh gaya permainan salah satu pesepak bola yang hasilnya tidak selaras dengan harapan.

Sumpah serapah berwujud kata-kata kasar sering keluar dari mulut mereka saat tendangan pemain idolanya melenceng atau membentur tiang gawang. Kekecewaan tersebut diekspresikan dengan berteriak sambil memaki manakala umpan bola yang semestinya dapat bersarang dengan mulus di dalam gawang dapat digagalkan pemain lawan.

Harapan Penonton

Pada konteks ini, penonton yang menonton pertandingan sepakbola Piala Dunia, sama sebangun dengan  penonton yang sedang menonton kinerja Presiden Jokowi, beserta rombongan para menteri pembantu presiden.

Sebagai penonton yang hidup di era budaya layar,  mereka menginginkan aspirasi dan keinginannya dapat terwujud sempurna. Kenyataannya, jauh panggang dari api. Artinya, berdasar realitas sosial,  program kerja Kabinet Kerja yang digawangi para menteri kurang berkenan di hati  penonton Presiden Jokowi.

Mereka menginginkan Jokowi menjadi tokoh superhero yang dalam waktu sesingkat-singkatnya mengejawantahkan keinginan para penonton itu. Mereka menjadi tidak sabar melihat gerak langkah pemerintahan Jokowi terkesan lambat. Mereka mengibaratkan stamina kerja Kabinet Kerja di bawah komando Presiden Jokowi, bagaikan batu baterai kekurangan setrum. Padahal dukungan setrum dari para penonton (baca: dukungan rakyat) sudah tidak diragukan lagi.

Di sisi lainnya, para penonton Jokowi berharap Presiden Jokowi menjamin ketersediaan bahan kebutuhan pokok dengan harga  stabil dan terjangkau. Mereka mengharapkan fasilitas kesehatan bagi rakyat miskin benar-benar diselenggarakan, bukan hanya sekadar diwacanakan dalam bentuk seremonial kenegaraan.

Mereka mengharapkan fakir miskin dan anak terlantar benar-benar ditanggung negara, bukan malah ditelantarkan oleh negara. Mereka mengharapkan Jokowi menyediakan lapangan pekerjaan guna memupus penganggur masyarakat terdidik yang jumlahnya membengkak. Mereka mengharapkan Jokowi menjamin serta mewujudkan keamanan dan pengamanan di seluruh wilayah Indonesia, sehingga para penonton Jokowi dapat bekerja dan beraktivitas di ruang publik dengan tentram, nyaman dan aman.

Para penonton Jokowi menginginkan pemerintah, pejabat publik dan anggota Dewan tidak menunjukkan sifat dan sikap adigang, adigung dan adiguna. Pertunjukkan kekerasan sosial semacam itu  berujung pada pamer kekuasaan di antara para pihak yang berseteru. Dampak sosialnya menyebabkan rakyat menjadi tidak tenang dalam beraktivitas. Dampak politiknya, kondisi suhu perpolitikan di Indonesia menjadi panas tidak menentu.

Kenapa belakangan ini penonton Jokowi menjadi semakin kritis? Juga ceriwis dan mudah marah? Cepat tersinggung, nyinyir dan galak saat menuliskan statusnya di akun media sosial? Malah terkesan tidak sabar menanti hasil kerja Kabinet Kerja Jokowi?

Pelayan Masyarakat

Hal itu terjadi karena rakyat yang sebagian besar adalah penonton Jokowi mempunyai harapan besar pada sosok Jokowi. Mereka yang galak. Kritis, ceriwis dan antagonis itu menginginkan Jokowi memberikan angin segar yang membawa pengharapan bugar. Mereka ingin agar hidup dan kehidupan rakyat Indonesia menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Murah sandang, pangan dan papan. Biaya kesehatan dan pendidikan terjangkau. Mudah mencari makan dan pekerjaan. Keamanan pun terjamin.

Atas pengharapan penonton Jokowi itulah, sudah saatnya pemerintah dan segenap pejabat publik mendekonstruksi dirinya menjadi pelayan masyarakat. Bermetamorfosa menjadi sosok pemerintah dan pejabat publik yang amanah. Mengedepankan ideologi pelayanan masyarakat lewat cara melayani rakyatnya dengan merealisasikan realitas sosial bukan realitas media apalagi realitas politik.

Sebagai pelayanan masyarakat sudah saatnya mengedepankan asas komunikasi cinta. Hal itu perlu dilakukan demi menjamin tersampaikannya pesan pemerintah kepada rakyat secara egaliter. Pesan pemerintah dikemas dalam sebuah proses komunikasi cinta yang sejuk dan tidak memunculkan miskomunikasi di antara kedua belah pihak.

Bagi rakyat, ketika pemerintah mengedepankan realitas sosial, hal itu jauh memenuhi hak rakyat atas harkat dan martabatnya. Sebaliknya, ketika pemerintah dalam setiap derap langkahnya lebih mengutamakan realitas politik, maka pemerintah berikut jajarannya memang tidak meniatkan diri menjadi pelayanan masyarakat yang mengutamakan kesejahteraan dan perlindungan jiwa raga bagi rakyatnya.

*) Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di harian KOMPAS, Senin 25 Mei 2015 | Follow Twitter @sumbotinarbuko

Sumbo Tinarbuko: Kita Sudah ‘Kehilangan’ Ruang Publik

(Perbincangan ini dimuat harian Kedaulatan Rakyat Minggu 24/02/2008)

Kemana kita akan nongkrong di Yogya ini? Ketika pertanyaan dilontarkan, bukan hal yang mudah untuk menjawab. Meski di kota ini banyak tersebar cafe, mall namun kehadiran ruang publik yang mudah dan dapat diakses siapapun menurut Sumbo Tinarbuko, bukan hal yang mudah diketemukan. Pertanyaan apakah ada ruang publik di kota ini, bahkan bisa terungkap.

Apa yang terjadi ini memang bukan hanya fenomena Yogyakarta. Bisa dikatakan, keberadaan ruang publik di kota-kota di Indonesia, sangat minim. Padahal ruang ini diperlukan dalam pergaulan di tengah kesibukan kita sekarang.

Ketika ditanya bagaimana sebenarnnya konsep ruang publik ini Sumbo mengakui jika dikaitkan dengan pendekatan ilmu yang terkait, ia tidak mendalami. “Hanya karena saya terbiasa di jalanan, jadi anak jalanan (hahaaa….). Maka saya pikir titik kesalahan ada dari sisi perencanaan kota, yang sejak awal tidak menyediakan ruang publik bagi warganya,” katanya dengan serius.

Bukan bermaksud menghujat. Tetapi bagi pakar desain komunikasi visual ini, sebenarnya sekarang yang menjadi ruang publik itu adalah justru seperti konsep pasar. “Ketika ada orang-orang nongkrong, tempat enak untuk kongkow-kongkow, maka dikatakan sebagai ruang publik,” sebutnya.  Dalam amatan saya secara otodidak ini, lanjutnya, ruang publik tidak disediakan. Sehingga ketika ada orang berkerumun, misalnya di Yogya di Lempuyangan, maka lantas disitu dikatakan sebagai ruang publik.

“Kalau melihat sejarah ketika Belanda membuka sebuah daerah, mereka membuka daerah’kan sudah disiapkan mana yang untuk permukiman, mana yang untuk bisnis, sosial dan juga ruang publik. Sehingga lingkungan menjadi terjaga. Sementara, kita selalu trial and error atau karena keterpaksaan,” katanya dengan gelak.

Iapun menyebut membangun dengan sikap atau sifat dadakan itu sulit. Seperti memindah pertemuan beberapa orang yang disitu itu terjadi dengan perdagangan yang dinamakan pasar, ke tempat lain. Ini tidak akan pernah selesai. “Ekstrimnya, diperlukan ruang publik yang baru. Kalau itu tidak memungkinkan dan kemudian diperlukan tempat nongkrong, tentu adalah yang tidak mahal harganya,” ucap Sumbo Tinarbuko, suatu sore.

Bisa Anda menjelaskan maksud diperlukan ruang publik baru yang tidak mahal harganya tersebut?

Ini memang bisa lantas dipertanyakan dulu, mahal itu bagi siapa. Tetapi menurut saya, kalau itu untuk menengah ke bawah — karena sebagian besar warga ada di kelompok ini – ruang publik itu tidak mungkin yang dipahami sebagai tempat nongkrong yang mahal harganya. Kalau makan di situ masih diperlukan uang Rp 10 ribu, untuk Yogya ini masih dikatakan mahal. Namun kalau jajan hanya sekitar Rp 5 ribu, mungkin bisalah itu dikatakan sebagai ruang publik. Sehingga di sini, konsep sanja, kongkow-kongkow atau bahasa gaulnya sekarang adalah nongkrong, bisa terpenuhi. Yang terjadi justru, disitulah sumber segala penyakit muncul.

Apa akibatnya menurut Anda?

Akibatnya, ruang publik itu tidak betul-betul menjadi ruang publik. Tetapi kemudian akan jadi beberapa kepentingan terutama berkaitan dengan pengusaha. Ketika pasarane dadi atau banyak orang berkerumun, maka pihak bisnis yang melihat potensi akan berpikir perlunya ruang publik yang sedemikian rupa terutama dalam konteks modern, mall.

Anda ingin menyebut bahwa kita kehilangan ruang publik dan itu telah mengakibatkan munculnya penyakit masyarakat? Dan kalau ini tidak tertangani dengan baik, akan menjadi problem. Lantas menurut Anda, apa yang harus dilakukan?

Ya! Kita memang’sudah kehilangan’ ruang publik dan membuat munculnya penyakit masyarakat. Dan yang jelas, tentu kita mengacu pada pemerintah. Dan dalam hal ini dia harus menjadi pamong. Dalam beberapa hal, itu memang sudah dilakukan. Tetapi masyarakat yang kadang-kadang tidak bisa melihat itu sebagai sebuah usaha. Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Saya sendiri susah untuk mengemukakan. Karena apa yang terjadi ini sudah ruwet. Ini benang kusut. Menjadi pertanyaan saya, mengapa kita justru tidak mencoba mencontoh tradisi pasar tradisional. Di sana ada tradisi interaksi pembicaraan, nyang-nyangan antara laki-laki perempuan sebagai pedagang dengan konsumen sebagai pembelinya.

Bagaimana mau mencontoh, jika yang ada justru terjadi penggusuran pasar-pasar tradisional?

Ya itulah. Seringkali itu membuat kita semua prihatin. Paradigmanya masih menganggap bila pasar tradisional dianggap kotor, ndesa. Mengapa ini terjadi? Ya itu tadi, karena kita punya stigma bahwa yang baik yang modern itu datang dari Barat. Dan itu kalau dihubungkan dengan Jangka Jayabaya, Ramalan Ranggawarsita : pasar ilang kumandange menjadi pas.

Anda bisa menjelaskan?

Saya ingin mengajak, apakah ketika kita berbelanja ke mall, begitu masuk membawa troly sampai dengan membayar di kasir itu kita berbicara dengan yang lain? Bukankah kita mengambil barang dan memilih sendiri, tanpa ada yang melayani tanpa ada yang menyapa? Ini berarti memang pasar ilang kumandhange.

Meski mall itu dikatakan sebagai ruang publik, tapi menurut saya tidak bisa begitu saja. Karena di situ tidak ada dialog. Sebab yang namanya ruang publik mestinya’kan menjadi tempat sanja, di situ kita bisa nyek-nyekan dan lainnya. Dan kita melihat ini tidak bisa apa-apa. Sebab kita sekadar mimpi dan tidak bisa apa-apa. Bahkan mimpi itupun tidak pernah terwujud. Ketika ruang publik tidak dapat diakses siapapun, masyarakat akan sakit.

Menarik apa yang Anda sampaikan. Jika demikian, lantas pelajaran apa yang dapat kita petik dari semua ini?

Kuncinya ada dua yakni kembalikan proses pendidikan itu tidak hanya pendidikan namun juga pengajaran. Selama ini kita hanya mendidik. Karena hanya mendidik, maka orientasinya adalah nilai. Sehingga yang terjadi kita hanya instant. Tetapi untuk membuat mi instant saja kita ndandakke. Padahal ketika pendidikan dan pengajaran itu disatukan, maka sebenarnya otak kiri dan otak kanan akan sinkron, hati dan pikiran juga akan selaras.

Kalau dalam agama saya ada salib, ada cross. Di sini ada bagaimana berhubungan dengan manusia lain dan kemudian juga dengan Tuhan. Yah… dalam Islam ada hablum minallah dan hablum minnanash. Ketika itu tidak hanya dipahami namun juga dipraktikkan, pasti ada perubahan.

Apa makna dari semua ini?

Kalau pendidikan dan pengajaran bisa disatukan, pergerakan kuncinya adalah pada dosen, guru dan orangtua. Meski tidak berprofesi sebagai guru, dosen tapi dia adalah guru paling tidak untuk keluarga, guru untuk masyarakatnya. Nah……….. guru di sini tidak harus diartikan sebagai pegawai yang mengajar.

Saya pikir, kalau kita menggunakan Budaya Jawa, sesungguhnya kita lebih modern daripada orang-orang yang sekarang disebut modern.

Dalam Budaya Jawa, konsep tentang hubungan ketuhanan, kemanusiaan, antara orangtua-anak, orangtua-guru, anak-anak pelajar-guru, rakyat-raja dan lainnya, sudah diatur tersendiri. Tetapi apa yang terjadi? Kita ini gampang terhasut oleh sesuatu yang dikatakan modern. Saya ingin bertanya, Candi Borobudur itu modern atau tidak? Batik itu modern atau tidak? Dalam batik, sebelum ada zat-zat kimia kita sudah membuat warna dengan teknologi yang diciptakan Tuhan.

Adalah sesuatu yang mengerikan, ketika hati nurani sudah hilang, Karena semua ini hanya akan memunculkan degradasi moral. Dan ternyata penyakit degradasi inilah yang membuat Sumbo begitu tertarik dengan persoalan-persoalan ini dan membuat kepeduliannya pada sekitarnya menjadi tinggi. “Diawali dari adanya warisan penyakit diabetes pada usia 39 tahun. Waktu itu saya sempat protes kepada Tuhan, mengapa diberi cobaan yang tidak masuk akal, diabetus mellitus. Salahku apa?” papar Sumbo suatu sore. Dan kondisinya menjadi’makin parah’ ketika dokter mengatakan bila penyakitnya tidak dapat disembuhkan.

Ketika’kesadarannya’ muncul iapun lantas ‘mengawinkan’ penyakit tersebut. Cara itu membuat bapak 2 anak ini mengambil makna: “Tuhan itu selalu punya rencana”. Tetapi mengapa tidak pernah mendengar dan mempelajari hal itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menelisik di hati. Yang kemudian terjadi adalah kembali mendalami pelajaran agama dan kembali ke gereja.

“Saya merasakan, Tuhan mengingatkan saya dengan diabetus mellitus,’ ujar Sumbo yang kemudian juga menekuni spiritual meditasi. Dan perjalanan hidupnya kemudian menyimpulkan bila otak kanan dan kiri harus diseleraskan, olah rasa dikelola sehingga menikmati hidup dengan pasrah tetapi bukan nglokro.

Sebagai orang yang memiliki ketertarikan pada masalah ruang publik, visual di ruang publik, bagaimana Anda melihat Yogya dibanding Jakarta, Singapura dan juga kota-kota besar dunia? Apakah memang ini akibat globalisasi atau karena’kehilangan identitas’ karena kota-kota ini kesannya memang menjadi tidak berbeda?.

Saya lebih suka mengatakan, masyarakat Yogya kalah pintar dengan unta. Mengapa? Karena unta tidak pernah terperosok keduakali. Pertanyaannya: “Apa awake dhewe goblog?” Yogya itu daerah istimewa, ditakdirkan Sri Sultan HB IX sebagai daerah istimewa. Mengapa kita tidak punya keunikan? Kita ingin dikatakan modern, terus membangun semua ala Jakarta.

Mestinya, warga yang masuk ke Yogya itu memberikan kontribusi pada Yogya, tidak mengubah Yogya seperti yang dimauinya. Nah…. ini bisa dikatakan lho, bahwa yang jahat adalah pendatang. Ibaratnya mahasiswa KKN yang tidak biasa buang air besar di sungai lantas kemudian memasang kloset duduk yang dianggap modern. Usai KKN berlalu, apakah masyarakat desa lokasi akan menggunakan itu?

Kemudian yang menjadi pertanyaan, mengapa kita menghilangkan kearifan lokal yang sangat modern? Sebab kita sudah menjadi bangsa konsumen. Sehingga, ikon-ikon Yogya menjadi hilang, semua billboard, kehijauan hilang.

Tetapi Anda adalah salah seorang yang mengajarkan membuat desain iklan. Bagaimana Anda mengatakan semua itu?

Ya, saya adalah salah satu yang mendidik orang membuat iklan. Tetapi yang saya permasalahkan adalah titik-titik penempatan yang bubrah, tidak iklannya.

Bisa dijelaskan?

Teorinya, ketika media ruang dipasangi, disitu harus ada kemacetan. Kalau tidak ada keramaian diciptakan keramaian supaya itu terlihat. Dalam teorinya, ada pelbagai macam strategi hal itu dilakukan, supaya dagangan laku. Yogya, tidak dapat ditumbuhi media ruang yang sedemikian dahsyat. Karena Kota Yogya itu kecil, hanya 32 km2. Meski kemudian Yogya sudah ada perbaikan sedemikian rupa, tetapi kawan-kawan pengiklan, brooker iklan dan lainnya sangat pintar mencari celah. Belum lagi yang liar.

Maksudnya?

Yogya sudah mulai menanam pohon, tapi masih banyak pohon yang dipaku, ditaleni (diikat) dengan bendrad. Ini sudah merusak tubuh pohon. Sekali lagi yang saya persoalkan adalah titik. Karena itu, marilah kita saling tidak egois, tidak hanya berfikir rasional/ekonomis. Dengan demikian Yogya akan memiliki ciri khas. Silakan ada billboard, tapi mbok iya-o, billboard yang njogjani. Kalau setahun ada 12 bulan, mbok iya-o, yang 1 bulan itu produsen pasang iklan layanan masyarakat (ILM). Sekarang ini yang kita lihat’kan saling bersaing, saling mengungguli. Kita melihat’iklan perang’ dan ini menjadi pendidikan buruk bagi masyarakat.

Pendidikan buruk, apa artinya?

Pendidikan buruk bagi masyarakat karena di situ benar-benar tidak ada Budaya Jawa. Bahkan tak ada lagi sanepa disitu. Sedihnya, orang Yogya tidak lagi mengenal sanepa lagi. Bahkan kalau orang diperingatkan dengan sanepa sudah tidak tahu. Karena mereka itu kurangajar, ajare kurang, meski tidak nakal. Ironisnya, sekarang banyak orang berpendidikan itu kurangajar. Buktinya, imajinasinya rendah dan bahkan tak bisa membayangkan apapun. Kreativitas adalah copy paste. Kalau bisa ngakali luar biasa senangnya. Bisa dikatakan, kita sedang mengalami masa kegelapan.

Meski ikon sudah hilang, bagaimana perasaan Anda ketika dari luar DIY masuk ke Yogya, adakah yang terasa lain?

Kalau dari segi atau sisi geografi, tidak ada. Yang membedakan kalau dari Jakarta ke Yogya itu bisa mlaku alon-alon. Jika soal harga mahal, kekerasannya sudah sama. Dengan alon-alon itu, masih ada aura ayem. (Fadmi Sustiwi)-c

Sumbo Tinarbuko: Konsistensi Sang Gerilyawan Desain


‘’MENJADI BERMANFAAT ADALAH SEBUAH TUGAS BESAR BAGI MANUSIA. TAPI BERMANFAAT BELUM TENTU MENDATANGKAN KEKAYAAN. BAHKAN TAK JARANG HARUS SWADANA’’

Sumbo Tinarbuko dikenal sebagai dosen yang mengajar berbagai mata kuliah di berbagai kampus Jurusan Desain Komunikasi Visual dan Jurusan Komunikasi Periklanan. Dia mengajar mata kuliah Huruf dan Tipografi, Tinjauan Desain dan Kritik Desain Komunikasi Visual, Desain Komunikasi Visual I dan IV, Skripsi, Tugas Akhir Karya hingga Kajian Sosial Iklan dan Semiotika Komunikasi Visual.

Selain mengajar dan menulis buku, Sumbo Tinarbuko juga mendirikan Kantor Konsultan Desain ‘’Idercangkem’’. Tak ada niatan untuk beralih profesi ke bidang lain. Sumbo bertekad untuk tetap konsisten di dunia desain grafis dan desain komunikasi visual.

Walau merintis karier sebagai akademisi desain, lelaki ini juga pernah mengecap pengalaman sebagai praktisi desain dan akhirnya terjun sebagai konsultan. “Saya menikmati sebagai konsultan karena bisa menjadi akademisi sekaligus praktisi. Mengedukasi klien bagian dari sisi akademisi sementara membuat desain adalah pekerjaan praktisi,“ ujarnya samabil tertawa. Sumbo Tinarbuko memang pribadi yang unik. Seorang akademisi, praktisi dan konsultan yang memandang desain dari kacamata budaya.

Sebagai seorang akademisi, Sumbo Tinarbuko menilai makna desain sebagai bagian dari komunikasi visual adalah membuat sesuatu yang paling baru di antara yang terbaru. Karena jika sesuatu yang dianggap biasa maka keluarbiasaannya akan menjadi biasa. Kita anggap out of the box adalah hal yang luar biasa, maka semua pasti mengikutinya. Jika semua orang sudah melakukan maka hal tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Dosen mata kuliah Tinjauan Desain ini juga menegaskan bahwa seorang desainer komunikasi visual harus berperan sebagai penanda zaman. “Ketika desain kita sepakati sebagai bagian dari produk kebudayaan massa, maka desain bisa berfungsi sebagai penanda jiwa zaman dari sebuah kebudayaan peradaban modern. Tinggal bagaimana kita memberikan tanda yang baik pada zaman kita ini,” tegas pendiri Konsultan Desain Idercangkem ini.

Menurutnya ciri sebuah produk yang mampu menjadi penanda zaman adalah mampu tampil secara atraktif, komunikatif, dan persuasif. Kemudian dapat mencerdaskan masyarakat terkait dengan pesan verbal dan pesan visual yang ingin disampaikan. Keberadaannya bisa diterima secara ikhlas oleh masyarakat luas. Dan, yang terakhir, mampu mengikuti perkembangan hukum adat yang berlaku, menjunjung tinggi moralitas, serta mengedepankan kearifan budaya lokal.

Ditanya tentang rencananya di masa mendatang, Sumbo mengaku akan tetap menggeluti dunia desain. Baik itu sebagai akademisi maupun konsultan. “Saya berprinsip, ketika hidup, (kita-red) harus selalu membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Jadi saya akan tetap concerned untuk memberikan ruh-ruh baru bagi generasi muda agar melihat desain tidak hanya dalam perspektif artistik dan komunikasi, akan tetapi desain sebagain bagian dari hidup kita.”

Lelaki yang juga giat menulis di beberapa media massa ini mengaku pilihan hidupnya memiliki resiko tersendiri. “Untuk bisa memberikan sebuah perspektif yang baru, saya harus terus up to date agar bisa sesuai dengan zamannya. Dan ini harus dilakukan dengan modal sendiri karena memang tidak memiliki pendonor,” ungkapnya. Resiko inilah yang kemudian membuat Sumbo menyebut dirinya “Gerilyawan Desain”. Selain itu, menurut anggota Dewan Penasihat ADGI Pengda DIY ini, tak jarang pendapatnya bertumbukan dengan pendapat kawan-kawan lainnya. “Ketika melihat sesuatu, saya juga menggunakan perspektif kebudayaan. Dan ini agak berbeda dengan yang lain. Saya juga tidak main-main dengan hal yang ideal, itu sebabnya saya selalu berusaha independen,” tuturnya bersemangat.

Memang untuk berbeda membutuhkan lebih dari sekadar niat, tapi juga konsistensi sebagaimana yang dilakukan oleh Sang “Gerilyawan Desain” ini. (Irwansyah)

Sumber:  Rubrik ‘Personal Project Profil’ Majalah Desain Grafis Concept, Vol 06, Edisi 37 September – Oktober 2010.