(OPINI KOMPAS) Ritual Mudik dan Konsumen Muda

Oleh SUMBO TINARBUKO

Sudah menjadi rahasia umum, mudik dipahami sebagai kembali ke udik. Meski perspektif udik dalam realitas sosial sudah bersalin bentuk, tetapi ritual mudik tetap menjadi pencapaian puncak para pemudik setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Fenomena ritual mudik selalu memberi ruang terbuka bagi siapa pun di tanah rantau untuk pulang ke udik. Fenomena ritual mudik juga menyediakan ruang terbuka hijau bagi para pemudik untuk kembali ke udik. Ritual mudik digariskan menjadi momentum tahunan. Kehadirannya ditunggu penuh rindu para penggembara dan perantau untuk menyegarkan kembali energi kekerabatan yang mulai meredup.

Ritual mudik diyakini mampu menumbuhkan energi patembayatan yang lenyap akibat disedot mesin penghisap kehidupan. Sebuah mesin raksasa yang menjadikan manusia perantau sebagai roh industri kehidupan. Pada titik ini, industri kehidupan diposisikan sebagai mesin kecil yang berputar cepat guna memproduksi dan menggandakan uang. Ujung ekstremnya, sebuah industri kehidupan yang mensyaratkan produksi massal dengan target untung melambung.

Identitas simbolik

Para pemudik pelaku ritual mudik, sebagian besar anak muda dengan kategori tenaga kerja produktif. Oleh industri kehidupan, mereka ini diposisikan sebagai konsumen muda. Konsumen potensial yang menjadi bagian dari industri kehidupan modern.

Realitas sosial di lapangan mecatat, sebagai konsumen muda, para pemudik bagaikan bulan purnama bersinar terang di tengah kegelapan. Sinar terangnya sangat membahagiakan parapengumbar ideologi kapitalisme modern. Keberadaannya pun sangat mudah dijadikan sasaran tembak bagi para produsen produk barang dan jasa.

Atas nama mengejar target untung melambung, para produsen produk barang dan jasa mampu menyihir konsumen muda dengan jargon: merayakan Idul Fitri tidak lengkap rasanya tanpa belanja produk dan jasa. Dahsyatnya, mereka mampu mengendalikan seluruh media massa cetak dan elektronik. Mereka piawai mengelola media iklan luar ruang, internet, operator telepon seluler, untuk dibombardir beragam promosi serta penawaran produk barang dan jasa dengan menggunakan momentum hari raya Idul Fitri.

Pertanyaannya kemudian, mengapa fenomena ritual mudik menjadikan para mudiker sekaligus konsumen muda sebagai sasaran empuk bagi gurita kapitalisme modern? Jawabannya, bagi para pemudik sekaligus konsumen muda yang hidup dengan gaya hidup modern di kota besar, jelas mereka memiliki potensi besar untuk melipatgandakan keuntungan gurita kapitalisme modern.

Mereka adalah sasaran paling empuk dan mudah dipengaruhi. Konsumen muda senantiasa mencampuradukkan aspek kebutuhan dan keinginan dalam setangkup tangan yang sama. Saat memutuskan belanja produk barang dan jasa, mereka lebih mengandalkan emosi ketimbang rasionya. Mereka cenderung menelan mentah-mentah segala informasi yang diterima. Mereka langsung buka dompet atau menggesekkan kartu kredit, asalkan hal tersebut mampu mendongkrak gengsi modern dan menyenangkan dalam konteks kekinian.

Dampaknya, para pemudik sekaligus konsumen muda tidak lagi mempertimbangkan fungsi riil dan kualitas atas sebuah produk barang dan jasa. Mereka dengan mudahnya mengadopsi nilai, sikap, perasaan, dan gaya hidup yang ditawarkan oleh promosi dan informasi pariwara tersebut.

Kelemahan ini dimanfaatkan secara jitu oleh produsen, biro iklan, dan event organizer yang berkompeten terhadap peluang ini. Mereka mengemas dengan menawan beragam promosi produk barang dan jasa dalam balutan bentuk rupa yang sangat prestisus serta bergengsi tinggi.

Promosi dan informasi pariwara tersebut lebih mengkonsentrasikan diri pada ‘’cara penyampaian’’ daripada ‘’apa yang disampaikan’’. Karena itu para pemudik yang notabene adalah konsumen muda lebih tertarik pada tampilan promosi dan informasi pariwara. Ketertarikan tersebut bukan karena tarikan magnet kebutuhan atas barang dan jasa yang mereka butuhkan.

Dalam perspektif budaya visual, para pemudik sebagai konsumen muda diminta mengabaikan ideologi konsumsi dalam perspektif fungsonal atas dasar kebutuhan hakiki. Yang terjadi justru kebalikannya. Para pemudik dibujuk dan disihir untuk menjalankan praktik konsumsi dalam jalur produk material simbolik. Pada titik ini, mereka dengan bahagia masuk dalam ‘‘jebakan Batman‘‘ yang dibentangkan secara sempurna oleh kelompok gurita kapitalisme modern. Dalam labirin bentangan itu, mereka menyasar para pemudik untuk menjadi anggota komunitas konsumen muda modern.

Selanjutnya, dalam payung gaya hidup modern, mereka memfasilitasi citra kebanggaan lewat paket produk barang dan jasa yang direpresentasikan melalui identitas simbolik. Skenario cantik seperti ini menyebabkan para pemudik tidak bisa secara merdeka melepaskan diri dari radiasi gelombang komodifikasi identitas simbolik yang disemburkan kelompok gurita kapitalisme modern.

Bayi yang fitri.

Masalahnya sekarang, lewat momentum ritual mudik, sanggupkah para pemudik menghindari jebakan konsumerisme dan hedonisme lewat budaya pamer harta keduniawian?

Terhadap jebakan konsumerisme dan hedonisme yang senantiasa mengguyur energi kemudaan para pemudik, seyogianya lewat momentum ritual mudik, harus kembali menjadi bayi yang fitri. Minimalnya memiliki jarak dan sikap yang kritis terhadap harta keduniawian. Yang harus dihindari adalah upaya untuk mengarahkan seluruh energi kemanusiaan demi memberhalakan materi harta duniawi. Para pemudik harus punya semangat mengupayakan bagaimana caranya menjadikan materi harta duniawi sebagai sarana berbagi energi kebaikan dan virus kebermanfaatan positif bagi sesama umat manusia. Sanggup?

Dr. SUMBO TINARBUKO
Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta
Artikel ini dimuat di kolom OPINI Harian KOMPAS, Jumat Legi, 30 Juni 2017
Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko,
Facebook: @sumbotinarbuko

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *