Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan DI Yogyakarta, seperti dikutip harian Kompas (3/12/2008), menemukan puluhan salon besar yang menjual produk kosmetik berbahaya berbahan zat hidrokinon. Seperti diketahui, hidrokinon merupakan unsur kimia pemutih yang berfungsi mencegah pembentukan pigmen melanin. Sementara itu, melanin adalah butir-butir pigmen yang menentukan warna kulit, putih, coklat atau hitam. Produk tersebut dijual bebas di sejumlah konter kosmetik di berbagai pusat perbelanjaan. Sebanyak 27 merek kosmetik saat ini dipastikan mengandung zat berbahaya seperti rodhamin dan merkuri yang bisa menyebabkan kanker.
Dari temuan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) ini mengindikasikan bahwa mitos kecantikan perempuan modern harus diejawantahkan dalam visualisasi badan ramping, kulit putih mulus, wajah tirus, dan rambut lurus. Mitos kecantikan perempuan semacam ini sengaja didengungkan para produsen produk kecantikan yang tergabung dalam jaringan kapitalisme global yang memosisikan perempuan sebagai obyek pajangan sekaligus obyek tontonan.
Pertanyaannya, mengapa perempuan selalu menjadi kelompok yang diperebutkan? Perempuan senantiasa diperebutkan karena di dalam tubuhnya mengandung beragam aura yang merupakan perwujudan dari berbagai simbol, baik itu berupa simbol kehidupan, simbol kekuasaan, simbol kebenaran, ataupun simbol moralitas. Menurut para pihak, dengan menaklukkan perempuan dapat dimaknai sebagai menguasai kehidupan, mengontrol kekuasaan, membela kebenaran, dan menjaga moralitas.
Adagium seperti itu, pada abad virtual terlihat sekali dalam praktiknya di jagat media massa cetak dan elektronik. Keberadaan tubuh perempuan acap kali diposisikan sebagai bumbu penyedap hadirnya sebuah iklan, kemasan produk, sampul majalah, buku, CD, dan kaset, film, sinetron, talk show, video klip, televisi, dan internet. Dalam konteks ini, jagat industri kreatif selalu diramaikan oleh penonjolan sex appeal kaum perempuan. Mereka berpandangan bahwa penggunaan tubuh perempuan dalam industri kreatif merupakan satu tuntutan estetika untuk memperebutkan perhatian penonton.
Industri kreatif
Di kalangan pekerja industri kreatif, fenomena tersebut ditanggapi dengan memunculkan beberapa alasan tentang dipilihnya perempuan sebagai bintang ambassador yang menjadi juru bicara bagi keberadaan sebuah produk industri kreatif.
Mereka beranggapan, perempuan lebih efektif dalam upaya merebut perhatian dari khalayak sasaran. Para konsumer produk industri kreatif, baik lelaki maupun perempuan, pada dasarnya menyukai penampilan perempuan yang anggun, santun, dan cantik. Sedangkan sebagian lelaki menyenangi penampilan perempuan yang anggun, santun, dan cantik plus seksi!
Perempuan dalam ranah industri kreatif memang tidak bisa dipisahkan. Kekerabatannya bagaikan dua sisi mata uang. Kenyataannya, perempuan memiliki kekuatan dalam membantu menjual produk industri kreatif. Ibarat sebuah pertunjukan sandiwara, perempuan merupakan peran kunci yang menentukan berhasil tidaknya sebuah pertunjukan tersebut. Atribut, kualitas, atau sikap yang mencirikan keperempuanan sebagai potensi yang melekat dan dimiliki seorang perempuan secara kodrati kini justru menjadi aset dalam serangkaian produksi dan pasar industri kreatif.
Tampilnya perempuan sebagai obyek dalam ranah industri kreatif dan media massa merupakan akibat dari posisi perempuan dianggap “obyek” dalam sistem yang dianut masyarakat. Budaya kita menganut sistem patriarkat. Artinya, perempuan ditempatkan dalam dunia yang sifatnya pribadi. Dengan sendirinya dikecualikan dari dunia lelaki yang kodratnya terbuka.
Perempuan menjadi terbuka (publik) bila seksualitasnya dimanfaatkan atau dieksploitasi. Oleh karenanya, seks bukan lagi sesuatu yang bersifat rahasia atau pribadi sebab telah dijadikan komoditas dan secara terbuka disediakan oleh jaringan kapitalisme. Ranah industri kreatif dianggap sebagai pengukuhan keinginan dan mimpi masyarakat dalam rengkuhan sihir kapitalisme. Sebagai obyek, ia tidak sekadar memiliki nilai guna, tetapi juga nilai tukar. Semua ditakar dari penampilannya, bukan oleh kegunaannya. Penampilannya sama dengan ilusi virtual estetik yang kemudian memanfaatkan ilusi tersebut untuk merangsang secara seksual dan mempertahankan daya sensual.
Melihat fenomena tersebut, citra yang diciptakan kepada perempuan di dalam industri kreatif lebih banyak memosisikan perempuan sebagai obyek yang dapat dibeli dan digunakan oleh konsumen atau penonton. Konotasi yang muncul akibat positioning perempuan sebagai obyek terbeli adalah sebuah persepsi yang terkesan merendahkan martabat perempuan.
Dijadikan obyek
Dalam hal ini, perempuan senantiasa dijadikan obyek dan selalu dikurung dalam sangkar emas. Persepsi yang kurang tepat itu sudah saatnya dibongkar dan dibenahi. Artinya, dengan kehadiran begitu banyak perempuan yang berperan dalam proses produksi industri kreatif, sejak dari ide, produksi, sampai penayangannya, diharapkan muncul tontonan sekaligus tuntunan yang “aman” dengan menu kreativitas yang tinggi sebagai panglimanya. Jika hal tersebut dilakukan, sesungguhnya merupakan sebuah langkah awal untuk mewujudkan posisi kehidupan perempuan ke arah yang lebih bermartabat.
*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) Dosen Komunikasi Visual dan Pegiat Studi Kebudayaan FSR ISI Yogyakart. Artikel ini dimuat di harian Kompas 20 Desember 2008.
Artikel yang berhubungan :
- DeKaVe Penanda Jiwa Zaman
- Perkawinan Tipografi dan Nirmana dalam Ranah Readibilitas Legibilitas
- Diluncurkan Buku #2 Sumbo Tinarbuko ‘‘Mata Hati Iklan Indonesia, Esai Sosial Budaya Periklanan Indonesia‘‘
- Drs. Sumbo Tinarbuko, MSn: ‘’Facebook’’, Lautan Tanda dan Upaya Memaknainya
- DiskomFest #3 DKV FSR ISI Yogyakarta: “Ring of Fire”
- (ANALISIS KR) Semiotika Gaya Yogya