Menuju Yogyakarta yang Indah, Nyaman dan Aman

Akun Nostalgia Jogja Facebook  menuliskan statusnya, ‘’makloemat oentoek toewan en njonjah pelantjong: manakala vakansi tiba, maka dengen ini djogdja saja ‘hibahken’ pada toewan2 en njonjah2 pelantjong pelantjongwati jang sedeng berboenga boenga atinja. slamet merajaken liboeran. slamet menikmati djogdja jang mbikin kangen kita semoewa, djangan mbikin matjet djalanan ja! en djangan loepa boewang sampah pada tempatnja ja!’’

Status tersebut merepresentasikan realitas sosial  kota Yogyakarta selalu dirindukan siapa pun. Masalahnya, kenapa Yogyakarta ngangeni?  Kenapa pula mereka yang pernah bermukim atau berkunjung ke Yogyakarta  ingin mengulang mendatangi kota berjuluk kota pariwisata dan pendidikan ini?

Kota Pariwisata

Sebagai kota pariwisata, Yogyakarta tidak bisa melepaskan diri dari sejarah dan artefak peninggalan nenek moyang yang telah membangun kota Yogyakarta menjadi sebuah kota unik dan ngangeni.  Warisan budaya tersebut  sangat menguntungkan bagi masyarakat mau pun Pemkot Yogyakarta.

Dalam perkembangannya, hasil peninggalan nenek moyang diposisikan sebagai aset budaya bernuansa heritage yang layak dipertontonkan kepada siapa pun. Di sudut lain, aset budaya tersebut perlu diinformasikan sebagai sebuah jejak kebudayaan yang sangat komprehensif. Keberadaannya  menunjukkan kemajuan pola berpikir dan pola bertindak nenek moyang dalam mengisi hidup dan kehidupan di zamannya.

Pertanyaannya kemudian, masyarakat dan pemkot Yogyakarta pewaris tunggal aset budaya tersebut mampukah melestarikan, merawat dan mengembangkan kota ini menjadi sebuah kota heritage?  sanggupkah mengedepankan  kebudayaan adiluhung sebagai sokoguru kehidupan yang layak direpresentasikan pada generasi berikutnya?

Manakala  jawabannya ‘ya’, bagaimana mewujudkannya?  Apakah dengan menjawab ‘ya’, selesailah tanggung jawab sang pewaris tunggal?

Jika ditilik realitas sosialnya, ditengarai jawaban ‘ya’ tidak berbanding lurus dengan realitas merawat dan mengembangkan warisan budaya sebagai representasi kota pariwisata yang berbudaya. Kenapa diasumsikan seperti itu?

Mari ditilik kenyataannya. Bagaimana mungkin aset budaya warisan  nenek moyang tampak lestari manakala tangan jahil melakukan vandalisme demi memuaskan egoisme  atas diri pribadi atau kelompok. Selain itu, secara visual bagaimana keberadaan objek wisata tersebut? Terlihat kumuh akibat serbuan pedagang kakilima dan semrawut efek parkir liar? Atau sebaliknya: bersih, unik, dan ngangeni? Bagaimana pula dengan pola pelayanan dan citra kenyamanan yang didedikasikan kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal mendesak dilaksanakan pemkot Yogyakarta, menyiapkan, menata, dan mendidik SDM pariwisata, pejabat publik dan masyarakat. Artinya, semua pihak yang terkait dengan aset warisan budaya nenek moyang diajak memiliki kesadaran pentingnya nguri-uri dan mengembangkan rasa handarbeni akan aset budaya sesuai jamannya. Caranya, memberikan jaminan kepada masyarakat dan wisatawan untuk mendapatkan kemudahan dalam sirkulasi keluar-masuk kota Yogyakarta yang sekaligus diposisikan sebagai objek wisata. Menumbuhkan rasa aman, nyaman, serta dijamin dapat menemukan suasana rekreatif  khas Yogyakarta.

Sampah Visual

Hal lain yang menjadi pertanyaan besar masyarakat dan wisatawan, masalah sampah visual. Bagaimana mungkin aset budaya tersebut terlihat eksotis ketika wajah bangunan heritage dan landscape pemandangan alam nan menawan itu sengaja ditutupi sampah visual berwujud ratusan iklan luar ruang berbentuk billboard, baliho, rontek, umbul-umbul dan spanduk. Dampaknya, bangunan heritage  dan landscape kota yang nilai intrinsik tidak terhitung justru dikerdilkan lewat perang promosi. Dampaknya, ruang publik dan ruang terbuka hijau seakan dikuasai teroris visual yang memaksa membeli produk barang dan jasa yang dijajakannya.

Salah satu indikator ramah tidaknya sebuah kota bagi warga masyarakat dan wisatawan yang mendatangi kota tersebut adalah seberapa banyak sampah visual  bercokol di ruang publik dan ruang terbuka hijau di kota tersebut. Semakin minim sampah visual yang menjadi teroris visual, maka semakin ramah kota itu bagi warga dan wisatawan yang menjadi tamu dari kota tersebut. Bagaimana dengan sampah visual yang ada di kota Yogyakarta?  Silakan Anda amati sendiri!

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) Aktivis Reresik Sampah Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta.

Artikel yang berhubungan :

  1. Menikmati Yogyakarta Kota Kenangan
  2. (OPINI KR) Iklan Luar Ruang yang Manusiawi
  3. (OPINI KR) Iklan, Pariwisata, dan Ruang Publik Kita
  4. (Analisis KR) Sampah Visual di 100 Hari
  5. Surat Terbuka untuk Kang Herry Zudianto: Pamit Pensiun Sambil Baca Realitas Yogyakarta
  6. Hapuskan Reklame Luar Ruang!
Tulisan ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>