(Katalog Pameran) Urun Rembug Visual Branding Desa Budaya

Kata Pengantar
Katalog Pameran DKV Visual Branding ADIDAYA
Karya Mahasiswa Angkatan 2015, Prodi Desain Komunikasi Visual
FSR ISI Yogyakarta

Urun Rembug Visual Branding Desa Budaya
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko

Branding wilayah atau branding destinasi wisata, belakangan menjadi trend di seluruh kabupaten, kota dan provinsi di Indonesia. Semua menyadari, di era bisnis modern yang dijual adalah merek, brand dan bukan produk. Apalagi produk yang dijual, semuanya hampir sama.

Berhasilkah program tersebut? Tentu ada yang berhasil. Tapi banyak juga yang gagal. Pasalnya? Euforia program branding hanya didedikasikan atas nama proyek. Bahkan program branding dalam pelaksanaannya diyakini mampu menyerap anggaran APBD yang besar. Pada titik ini, program tersebut mengingkari konsep branding yang sudah disepakati bersama.

Untuk itu perlu dibuat kesepakatan baru antarpara pihak. Sebab pada dasarnya, sebuah brand, dalam konteks branding wilayah, kota atau destinasi desa wisata dan desa budaya, tidak sekadar membuat serta merancang nama merek. Kemudian diparafrasekan dan divisualkan dengan pendekatan desain komunikasi visual menjadi sebuah logo.

Gampangnya, brand tidak sama dengan merek. Ibarat raga manusia, merek sekadar nama pribadi manusia. Ketika pendapat umum masih menganggap brand identik dengan merek. Realitas sosial yang muncul, nama tersebut (baca: merek) senantiasa berjarak dengan objek yang diberi nama.

Atas dasar itulah disodorkan konsep baru yang mendekonstruksi brand bukan kembaran dari merek. Sebab brand adalah merek plus plus. Keberadaannya meliputi segenap jiwa raga dari sang manusia itu sendiri. Brand harus dijaga dalam posisi sebagai kata kerja. Bukan kembali pada sang asal, yakni tetap menjadi kata benda.

Berdasarkan realitas sosial tersebut di atas, Pameran DKV Visual Branding ADIDAYA yang digelar mahasiswa angkatan 2015, Prodi Desain Komunikasi Visual, FSR ISI Yogyakarta, mencoba mendekonstruksi sekaligus urun rembug. Mereka menyumbangkan konsep verbal dan konsep visual bagaimana sebaiknya melakukan proses penciptaan dan perancangan visual branding desa budaya yang ada di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul.

Konsep urun rembug tersebut didedikasikan guna membangun citra positif desa budaya yang ada di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunungkidul, melalui pendekatan DKV visual branding. Hasilnya dipamerkan di Lippo Plaza Mall Jogja, dari 1 – 3 Desember 2017.

Urun rembug penciptaan dan perancangan visual branding desa budaya ini juga merupakan bentuk pertanggungjawaban sosial dosen pengampu mata kuliah DKV Visual Branding kepada masyarakat luas atas proses belajar mengajar yang dilaksanakannya selama satu semester.

Selain itu, dosen dan mahasiswa yang terlibat menjalankan proses belajar mengajar mata kuliah DKV Visual Branding dengan rendah hati mohon saran, masukan dan sumbangan ide gagasan demi terwujudnya proses belajar mengajar DKV Visual Branding yang membumi dan memberikan kebermanfaatan bagi seluruh umat manusia.

Slamat pameran, salam #merdekave.

(Dr. Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *