Semiotika Komunikasi Visual
(beli dan pesan buku ‘’Semiotika Komunikasi Visual’’, hubungi: apridhian@yahoo.co.id)
Membaca Tanda, Memahami Komunikasi
Yasraf Amir Piliang
Buku Sumbo Tinarbuko, Semiotika Komunikasi Visual adalah sebuah upaya memberikan sebuah interpretasi terhadap keilmuan semiotika itu sendiri, yaitu semiotika sebagai sebuah metoda pembacaan karya komunikasi visual. Sebagai sebuah upaya interpretasi, Sumbo di sini sedang menawarkan sebuah ‘kebenaran’ tentang semiotika komunikasi visual, di samping ‘kebenaran-kebenaran lain’ (the other of truth), yang ditawarkan oleh para penulis lain, dengan argumen, nalar dan sistematika yang dikembangkannya masing-masing. Dalam hal ini, apa yang ditawarkan Sumbo adalah sebuah ‘kebenaran relatif’ di hadapan kebenaran-kebanaran lainnya, bukan kebenaran tunggal. Interpretasi dan kebenaran itu diharapkan dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang semiotika itu sendiri, dengan menyediakan sebuah ruang pemahaman tanda yang lebih terbuka dan dinamis.
Dilihat dari sudut pandang semiotika, desain komunikasi visual adalah sebuah ‘sistem semiotika’ khusus, dengan perbendaharaan tanda (vocabulary) dan sintaks (syntagm) yang khas, yang berbeda misalnya dari sistem semiotika seni. Di dalam sistem semiotika komunikasi visual melekat fungsi ‘komunikasi’, yaitu fungsi tanda dalam menyampaikan pesan (message) dari sebuah pengirim pesan (sender) kepada para penerima (receiver) tanda berdasarkan aturan atau kode-kode tertentu. Fungsi komunikasi mengharuskan ada relasi (satu atau dua arah) antara pengirim dan penerima pesan, yang dimediasi oleh media tertentu.
Meskipun fungsi utamanya adalah fungsi komunikasi, tetapi bentuk-bentuk komunikasi visual juga mempunyai fungsi signifikasi (signification), yaitu fungsi dalam menyampaikan sebuah konsep, isi atau makna. Ini berbeda dengan bidang lain, seperti seni rupa (khususnya seni rupa modern) yang tidak mempunyai fungsi khusus komunikasi seperti itu, akan tetapi ia memiliki fungsi signifikasi. Fungsi signifikasi adalah fungsi di mana penanda (signifier) yang bersifat konkrit dimuati dengan konsep-konsep abstrak, atau makna, yang secara umum disebut petanda (signified). Dapat dikatakan di sini, bahwa meskipun semua muatan komunikasi dari bentuk-bentuk komunikasi visual ditiadakan, ia sebenarnya masih mempunyai muatan signifikasi, yaitu muatan makna.
Sebagaimana dikatakan juga oleh penulis buku ini, efektivitas pesan menjadi tujuan utama dari desain komunikasi visual. Berbagai bentuk desain komunikasi visual: iklan, fotografi jurnalistik, poster, kalender, brosur, filem animasi, karikatur, acara televisi, video clip, web design, cd interaktif adalah di antara bentuk-bentuk komunikasi visual, yang melaluinya pesan-pesan tertentu disampaikan dari pihak pengirim (desainer, produser, copywriter) kepada penerima (pengamat, penonton, pemirsa).
Semiotika komunikasi mengkaji tanda dalam konteks komunikasi yang lebih luas, yang melibatkan berbagai elemen komunikasi, seperti saluran (channel), sinyal (signal), media, pesan, kode (bahkan juga noise). ‘Semiotika komunikasi’ menekankan aspek ‘produksi tanda’ (sign production) di dalam berbagai rantai komunikasi, saluran dan media, ketimbang ‘sistem tanda’ (sign system). Di dalam semiotika komunikasi, tanda ditempatkan di dalam rantai komunikasi, sehingga mempunyai peran yang penting dalam penyampaian pesan.
Teks, Obyek, Konteks
Meskipun obyek utama dari komunikasi visual adalah elemen-elemen komunikasi yang bersifat ‘visual’, yaitu garis, bidang, ruang, warna, bentuk dan tekstur, akan tetapi pada perkembangannya, desain komunikasi visual juga melibatkan elemen-elemen non-visual, seperti tulisan, bunyi atau bahasa verbal. Elemen-elemen yang berperan di dalam berbagai bentuk komunikasi visual mutakhir, khususnya dalam media komunikasi elektronik, adalah kombinasi antara elemen-elemen visual, suara, bunyi dan tulisan (text).
Kombinasi elemen-elemen visual dengan yang non-visual macam ini tampak pada desain iklan. Seperti media komunikasi massa pada umumnya, iklan mempunyai fungsi ‘komunikasi langsung’ (direct communication), yang berbeda dari karya seni rupa yang mempunyai fungsi komunikasi tak langsung (indirect communication). Iklan mempunyai fungsi utama penyampaian ‘pesan’, meskipun ia juga mempunyai fungsi signifikasi. Bagaimana motif penyampaian pesan dan signifikasi dikombinasikan di dalam iklan, telah dijelaskan oleh berbagai ahli semiotika iklan, seperti Gillian Dyer, Torben Vestergaard atau Judith Williamson.
Dari pandangan ahli-ahli semiotika periklanan tersebut di atas, dapat dilihat bahwa ada dimensi-dimensi khusus pada sebuah iklan, yang membedakan iklan secara semiotis dari obyek-obyek seni pada umumnya, yaitu bahwa sebuah iklan selalu berisikan unsur-unsur tanda berupa obyek (object) yang diiklankan; konteks (context) berupa lingkungan, orang atau makhluk lainnya yang memberikan makna pada obyek; serta teks (berupa tulisan) yang memperkuat makna (anchoring), meskipun yang terakhir ini tidak selalu hadir dalam sebuah iklan. Pada iklan televisi, unsur tanda ini ditambah lagi oleh unsur bunyi (sound) dan bahasa ucapan (speech).
Buku Semiotika Komunikasi Visual ini lebih memfokuskan diri pada bentuk-bentuk komunikasi visual dua dimensi, berupa gambar-gambar diam (still images), dengan perhatian khususnya pada tiga bentuk desain komunikasi visual, yaitu Iklan Layanan Masyarakat (ILM), kaos oblong, dan rambu lalu lintas. Meskipun dibatasi pada tiga kasus ini, tetapi analisis semiotika di dalam buku ini mampu memperlihatkan tidak saja struktur semiotika, tetapi yang lebih penting ‘muatan lokal’ dari semiotika, yaitu aneka ‘kode kultural’ (cultural codes) dan ‘kode semantika’(semantic codes) yang bersifat indigenous, yang hidup di dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat dan kebudayaan Jawa. Di dalamnya terdapat kode-kode tentang kearifan lokal (kebersamaan, gotong royong), mitos-mitos (keperkasaan, kecantikan), keunikan tempat (pasar burung, keraton), keunikan figure of speech (plesetan, ghotak-gathuk), dan kode jender (maskulinitas, femininitas).
Melalui analisis mendalamnya terhadap beberapa obyek kultural tersebut di atas, buku ini memperlihatkan dengan jelas sifat-sifat keterbukaan, kontekstualitas dan pluralitas dari semiotika sebagai sebuah ilmu. Bahwa, bagaimanapun ketatnya prinsip, definisi atau struktur tanda di dalam semiotika, tetap saja ada muatan-muatan lokal atau indigenous dari semiotika. Untuk itu, dalam pemahaman terhadap kode-kode kultural yang beragam itu dituntut pikiran yang terbuka, lentur dan inklusif, karena apa yang dianggap sebagai sebuah ‘kebenaran’ (truth) di dalam sebuah kebudayaan, boleh jadi dianggap ‘kepalsuan’ di dalam kebudayaan lainnya. Semiotika menentang setiap bentuk ‘arogansi intelektual’.

berapa y harga bukunya??
saya ada di jakarta..