Desain Komunikasi Visual: Kedepankan Rasa Kemanusiaan yang Berkeadilan

Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko, M.Sn

1#
Desain komunikasi visual adalah ilmu kehidupan yang berupaya memecahkan masalah komunikasi visual dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang berkeadilan. Pada titik ini, Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta berupaya membimbing mahasiswa agar memiliki kemampuan sebagai calon desainer komunikasi visual yang dapat mengemukakan konsep berpikir dengan pendekatan design thinking, mengamati, mengidentifikasi, menganalisis dan mewujudkan hasil analisis tersebut dalam bentuk kajian maupun rancangan karya desain komunikasi visual.

Agar mempunyai semangat sebagai pengkaji dan perancang komunikasi visual yang piawai mencetuskan, menemukan ide ciamik serta selalu tampil dalam nuansa kebaruan, maka konsep pendidikan tingi desain yang dikembangkan Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta senantiasa mengedepankan aktivitas proses belajar mengajar yang berfondasikan pada unsur kreativitas dan inovasi. Artinya, sebuah proses mental berujung pada tahapan berpikir yang mampu memunculkan ide baru. Ketika ide kreatif tersebut dieksekusi dapat diaplikasikan secara praktis dan efisien dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang berkeadilan.

Selain itu, Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta bersungguh-sungguh menjadi pembimbing, pembombong dan pamomong mahasiswa. Hal itu didedikasikan untuk mahasiswa, agar mereka mampu berkomunikasi secara verbal dan menguasai proses penyampaian pesan secara visual kepada masyarakat luas secara santun. Semuanya itu dihadirkan dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang berkeadilan.

2#
Catatan leluhur mencatat: sejatinya desain komunikasi visual adalah sandangan urip manungsa. Sebagai bagian dari nafas kehidupan manusia, siapa pun yang bergerak bersama desain komunikasi visual, seyogianya menyepakati catatan leluhur yang sangat luhur tersebut. Cara menyepakatinya dengan mengedepankan semangat untuk hidup dan menghidupkan desain komunikasi visual, agar desain komunikasi visual tetap hidup.

Guna menajamkan catatan leluhur tersebut, sudah selayaknya manakala desain komunikasi visual diangkat harkat dan martabatnya untuk didudukkan di kursi singgasana. Selanjutnya, agar keberadaan desain komunikasi visual tampak agung sekaligus membumi, maka di sisi kiri dan kanan kursi singgasana perlu dilengkapi hadirnya publikasi ilmiah serta kajian popular di sejumlah jurnal ilmiah, buku, media massa cetak maupun media sosial.

Konsekuensi logisnya, mahasiswa dan dosen desain komunikasi visual wajib membuka wawasan lebih luas dengan memperkaya diri lewat bacaan yang terkait dengan cultural studies, ilmu humaniora dan ilmu sosial lainnya. Lewat berbagai bacaan tersebut, akan tumbuh kesadaran maca, aksara lan wicara dalam rangka mengedepankan literasi desain komunikasi visual. Ujungnya, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat lebih banyak melihat, mengidentifikasi, menganalisis, mengkaji dan merancang karya desain komunikasi visual.

Hal itu wajib dilakukan guna menginformasikan kepada masyarakat perihal fungsi sosial dan peran budaya desain komunikasi visual. Terpenting, perkembangan desain komunikasi visual dalam konteks wacana maupun praktik, tanpa dukungan dan partisipasi parapihak sulit dilaksanakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka keberadaan desain komunikasi visual sebagai salah satu bagian kajian studi kebudayaan, akan jalan di tempat alias mandheg!

3#
Perkembangan desain komunikasi visual tidak lepas dari peran pendidikan akademik. Faktor penentu lainnya: kurikulum dan sarana prasarana. Sedangkan penentu kunci adalah kualitas dosen. Mengapa menjadi penentu kunci? Sebab keberadaannya diposisikan sebagai garda depan agen pembaruan desain komunikasi visual di tengah industri kreatif yang kian marak di Indonesia.

Dengan demikian, seluruh sarana dan prasarana pendidikan, kualifikasi sumber daya manusia (dosen dan mahasiswa), kurikulum pendidikan, peraturan akademik dan lainnya diupayakan untuk dapat memperoleh lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut:

Pertama, mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan melalui studi kepustakaan dan lapangan, guna meningkatkan wawasan di bidang desain komunikasi visual. Kedua, memiliki kreativitas yang tinggi untuk melakukan eksperimen desain dan inovasi baru, baik dari segi fungsi sosial maupun kebudayaan. Hal itu dieksekusi sebagai upaya memberi nilai tambah terhadap karya yang dihasilkan. Ketiga, mampu menciptakan karya desain komunikasi visual yang mengedepankan unsur kebaruan (novelties), komunikatif, manusiawi, berkeadilan dan bermartabat. Terakhir, mampu melakukan prosedur penelitian, pengkajian, perancangan serta melakukan presentasi, sebagai pertanggungjawaban secara konseptual atas semua karya desain komunikasi visual yang dibuatnya.

4#
Berdasar kenyataan tersebut, ada baiknya kita mulai memikirkan bagaimana menjalin kolaborasi sinergis antara pemerintah, jagad industri, asosiasi profesi, para alumnus, dan lembaga pendidikan tinggi desain komunikasi visual yang ada di Indonesia.

Upaya menjalin hubungan profesional yang saling membahagiakan semacam itu perlu segera diupayakan karena pihak industri menginginkan lulusan desain komunikasi visual siap pakai dengan segala amunisi yang dimiliki. Di sisi lain, pihak industri kurang berkenan memikul tanggung jawab sebagai ‘sekolah lanjutan’ bagi lulusan perguruan tinggi desain komunikasi visual yang akan memasuki dunia industri kreatif bidang desain komunikasi visual.

Sudah saatnya ranah industri kreatif bidang desain komunikasi visual maupun ’industri pendidikan desain komunikasi visual’ saling berbagi pengalaman dan bahu membahu antara yang satu dengan lainnya. Karena setiap lembaga pendidikan tinggi desain komunikasi visual memiliki keunikan serta kelebihan tersendiri. Hal itu akan sangat menggembirakan ketika industri kreatif bidang desain komunikasi visual berkenan memahami secara merdeka karakter dan visi misi dari lembaga pendidikan desain komunikasi visual.

5#
Karena desain komunikasi visual adalah penanda zaman, maka desainer komunikasi visual adalah produsen tanda yang setiap saat menandai zamannya. Hebatnya, jejak tanda zaman yang ditorehkannya secara otomatis tercatat dalam catatan sejarah perkembangan peradaban manusia.

Berdasarkan hal tersebut di atas, agenda Pameran Karya Desain Komunikasi Visual “Lini Masa” 26 – 28 Agustus 2017 yang digelar Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta, di Jogja National Museum adalah upaya membangun kebersamaan dalam konteks kerja kolaborasi antar parapihak secara kreatif dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang berkeadilan.

Selain itu, Pameran Karya Desain Komunikasi Visual “Lini Masa” 2017 yang digelar Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta diselenggarakan guna mempertanggungjawabkan secara sosial kepada masyarakat luas dalam rangka melaporkan hasil proses belajar mengajar yang diselengarakannya selama ini.

(Dr. Sumbo Tinarbuko, M.Sn adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta| Artikel ini dimuat di Katalog Pameran Perjalanan Desain Komunikasi Visual dari Masa ke Masa: LINI MASA, Prodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Jogja Nasional Museum , 26 – 28 Agustus 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko, Facebook: @sumbotinarbuko)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *