(Aspirasi Harjo) Pertunjukan Komunikasi Kebohongan

Oleh Dr. Sumbo Tinarbuko

Jelang akhir 2017, pertunjukan kebohongan secara kuantitatif menunjukkan grafik peningkatan terstruktur. Pergelaran kebohongan menjadi tontonan berklas premium yang senantiasa dipertontonkan pejabat pemerintah, anggota dewan, pengurus parpol dan pejabat publik. Peternakan ketidakjujuran yang mereka pamerkan lewat medsos, media massa cetak dan elektronik, akhirnya oleh sebagian masyarakat, dianggap sebuah kebenaran.

Para pengabai tindak kebenaran senantiasa mendandani tampilan visualnya sedahsyat mungkin. Para komunikator kebohongan senantiasa memilin bahasa bohong dengan penampakan visual yang sangat ciamik. Mereka merekayasa bahasa bohong melalui pendekatan kekerasan simbolik untuk selanjutnya dikomunikasikan menjadi sebuah kebenaran artifisial. Karena targetnya mengomunikasikan kebohongan menjadi sebuah laku kebenaran, maka keberadaannya terlihat lebih hebat ketimbang realitas iklan yang tampak realistis di hati masyarakat.

Peristiwa paling fenomenal pada pertunjukan komunikasi kebohongan dapat disaksikan lewat kasus korupsi e-KTP. Kasus kejahatan kerah putih tersebut melibatkan orang kuat di lingkungan DPR RI yang didukung total pengacaranya.

Pertunjukan kebohongan lainnya, di antaranya, dipanggungkan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Orang nomer satu dan nomer dua di lingkungan pemerintahan DKI Jakarta ini senantiasa mengumandangkan pernyataan, komentar dan pendapat yang cenderung menisbikan kebenaran atas fakta serta realitas sosial yang berkembang di akar rumput.

Kuasa Uang

Saat gurita kebohongan terendus dan terkuak khalayak, mereka lalu membungkus kebohongan itu dengan kebohongan baru. Bungkusan kebohongan baru tersebut kemudian dimintakan dukungan masyarakat lewat pembenaran komunikasi kebohongan. Caranya, mereka saling berbantahan lewat media massa cetak dan elektronik. Isi bantahan komunikasi kebohongan dengan menyatakan dirinya tidak sedang berbohong.

Dalam perspektif budaya visual, peristiwa komunikasi politik dengan dukungan kursi kekuasaan yang diduduki pejabat publik dan anggota dewan, ditengarai menjadi rumah nyaman untuk disemaikannya telur gurita kebohongan lewat berbagai bentuk lelaku tidak jujur.

Lewat bahasa komunikasi politik, beragam kebohongan mereka jahit rapi menjadi sebentuk pakaian yang indah. Ujungnya, di depan masyarakat, kebohongan tampak asli bagaikan sebuah kebenaran yang sebenarnya. Untuk itulah, komunikasi kebohongan wajib dihadirkan menjadi sebuah kebenaran dalam balutan makna konotasi yang seolah baik adanya.

Fenomena pembenaran kebohongan semakin terlihat nyata di zaman now yang peruntukannya serba terbolak-balik. Kelompok pembohong yang suka berbohong, lewat kuasa uang, lalu mendekonstruksi dan mencitrakan dirinya sedemikian rupa menjadi orang yang sangat jujur, religius serta baik hatinya. Hal sama berlaku juga bagi orang yang sengaja senang berbuat salah. Dengan memanfaatkan kuasa uang, mereka sangat mudah memutarbalikkan posisinya menjadi pihak yang seolah benar atau dibenarkan oleh sang keadaan.

Bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada sang tuan keserakahan, kuasa uang menjadi kendaraan yang dianggap sanggup menguasai dunia dengan cepat. Kuasa uang diyakini memiliki magnet besar yang berhasil membalikkan sang jahat menjadi sosok tampak suci. Sebaliknya, kuasa uang pun mampu menenggelamkan sesuatu yang sudah berjalan benar untuk kemudian dirobohkan menjadi seolah salah. Peristiwa semacam itu juga diberlakukan bagi mereka yang senantiasa berlaku jujur akan berujung hancur lebur. Sedangkan sang jahat, lewat kuasa uang yang dimilikinya justru menjadi semakin terhormat.

Filosofi Penjor

Ketika seseorang pembohong dalam hidupnya menganggap dirinya paling benar dengan membenar-benarkan kebohongan yang dilakukannya. Pada titik itu, sejatinya ia sedang memasuki sebuah ranah kebodohan yang sebodoh-bodohnya. Hal itu terjadi karena ia menutup diri terhadap kebenaran yang dipantulkan oleh sang kebenaran itu sendiri. Dengan demikian, kebohongan demi kebohongan yang ia lakukan, sejatinya merupakan upaya proses bunuh diri guna mematikan kebenaran dan kebaikan yang bermekaran dalam dirinya.

Manakala kebohongan demi kebohongan sudah menjadi realitas sosial di zaman now. Saat kebohongan demi kebohongan diangkat menjadi ideologi kebenaran yang sebenar-benarnya. Fenomena seperti itu mengingatkan kita pada sebatang bambu. Keberadaan biasa dimanfaatkan sebagai penjor tarub ritual pengantin. Penjor berasalnya dari sebatang bambu panjang menjulang. Ujungnya yang melengkung diberi hiasan sehingga tampak indah dan meriah. Sedangkan pangkal bambu yang lurus dan kokoh di tanam di dalam tanah.

Filosofi penjor agaknya cocok untuk mengilustrasikan aktivitas ketidakjujuran yang selalu dirayakan di mana pun. Hal itu tampak jelas pada ujung bambu melengkung yang senantiasa dihias serta didandani sedemikian rupa agar tampil cantik menawan.

Sedangkan yang orang jujur dan selalu berkata benar, nasibnya akan disingkirkan atau dihilangkan dari muka ibu pertiwi. Ia harus rela ditanam dalam tanah agar tidak dapat menunjukan kejujuran dan kebenarannya. Hal tersebut terlihat nyata pada pangkal batang bambu yang lurus, kaku dan kokoh. Ia rela menyediakan dirinya menjadi dasar sekaligus fondasi dari keberadaan sang penjor tersebut.

Di zaman now, filosofi penjor realitas sosialnya menjadi relevan untuk menangkal laku komunikasi kebohongan yang dihadirkan secara meriah dan terlihat indah.

Pertanyaannya kemudian, beranikah kita mengatakan dan menjalankan laku kebenaran? Sanggupkah kita, sejak dalam pikiran berlaku jujur pada diri sendiri? Jawabannya silakan ditanyakan pada hati nurani Anda masing-masing.

(Dr. Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di kolom Aspirasi Harian Jogja, 2 Desember 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko, Facebook: @sumbotinarbuko)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *