(Analisis KR) Okolisme + Terorisme = Radikalisme

Kekerasan okol (otot), terorisme dan radikalisme tumbuh subur di Indonesia. Pupuknya ditebar lewat kehadiran bom yang dirakit dan ditanam di ruang publik. Keberadaannya menjadi senjata ampuh bagi kelompok terorisme.

Dogma ‘senggol bacok’ dan kerusuhan antarwarga sipil atau perkelahian massal melawan aparat keamanan adalah visualisasi masif dari kekerasan okol dalam bentuk lain. Sedangkan aktivitas penculikan anak muda dilanjutkan proses pencucian otak mereka adalah penanda awal radikalisme. Kelompok ini bergerak dengan mendedahkan ideologi tertentu.  Hasratnya ingin mendirikan negara berbasis agama. Aktivitas radikalisme seperti  ini dilandaskan hati keruh dan pikiran sempit yang secara nyata mengingkari kesepakatan dan janji setia kita pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah negara berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Gerakan okolisme yang menjadi akar tunggang ini dengan sadar menunggangi modus operandi terorisme dan radikalisme. Secara matematika dapat dikatakan: okolisme + terorisme = radikalisme. Gerakan semacam ini senantiasa memosisikan anak muda sebagai pasukan berani mati. Okolisme yang menjadi basis kekuatan radikalisme merebak akibat kekecewaan rakyat terkait dengan kehidupan sosial ekonomi yang timpang dan tidak berkeadilan sosial bagi masyarakat luas.

Masalahnya, kenapa anak muda rela menyerahkan dirinya berkubang dalam pusaran okolisme, terorisme dan radikalisme? Ditengarai, sebagian besar anak muda Indonesia mengalami suatu tahapan hidup yang gelap, menyebabkannya terlambat menemukan jatidiri. Dampaknya, jiwa raga mereka gampang dibelokkan oleh cengkeraman kelompok terorisme dan radikalisme.  Akibat psikologisnya, mereka bangga menerima tugas ‘mulia’ sebagai pasukan berani mati yang dibebani target melakukan perubahan radikal dengan menghalalkan segala cara.

Sebab lainnya, bekal pendidikan dan lingkungan keluarganya tidak kondusif. Kedua lingkungan yang paling dekat dengan anak muda itu tidak pernah membantu mendampingi mereka menjadi manusia dewasa yang berkepribadian luhur. Lingkungan keluarga dan lingkungan pendidikan selalu memasang target-target materialisme. Kedua lingkungan tersebut terlihat enggan menjadi pionir  yang mengabdikan dirinya guna mengembangkan kemanusiaan manusia dalam sebentuk perikehidupan yang manusiawi. Sebuah hidup dan kehidupan yang seturut dengan jalan Tuhan.

Lingkungan pendidikan cenderung mengajarkan pengetahuan bersifat instan dengan ukuran yang terukur berbentuk angka atau huruf. Pendidikan tidak mengajarkan peserta didik mengolah budi kemanusiaan manusia lewat proses menyelaraskan akal pikiran dan nalar perasaan. Pendidikan tidak mengajarkan semangat keberagaman yang bermartabat sebagai bagian dari pergaulan sosial di jagat raya ini. Sebaliknya, pendidikan di Indonesia secara kasatmata menjadikan peserta didik sebagai makhluk hidup yang  seragam dan cenderung egois.

Guru dan dosen yang tergabung dalam industri  pendidikan diposisikan sebagai perangkat keras. Kurikulum, silabi dan proses belajar mengajar sebagai perangkat lunaknya. Sedangkan peserta didik adalah sebentuk benda bernyawa yang dihasilkan oleh pabrik bernama industri pendidikan.

Di lingkungan keluarga, orang tua menjadi sangat pragmatis dan berpikir instan terhadap perkembangan kejiwaan anaknya. Itu terjadi karena mereka harus bekerja dengan jam kerja nine to five. Maka peran orangtua dalam proses pendampingan tumbuhkembang buah hatinya menjadi longgar dan acuh tak acuh. Pada titik inilah malapetaka miskomunikasi kemudian menjadi kubah gunung berapi yang setiap saat rawan meledak.

Sementara itu, negara dibangun dengan semangat kekeluargaan. Sedangkan pemerintah bagaikan orang tua yang bertugas menjadi pembimbing, pembombong dan pemomongnya. Rakyat harus dibimbing supaya mampu menyeimbangkan nalar perasaan dan akal pikiran. Rakyat perlu dibombong agar ia memiliki rasa percaya diri dan bangga menjadi bangsa produsen yang kreatif dan inovatif. Pemerintah, harus menjadi pemomong yang baik dengan melindungi rakyatnya dari berbagai penjajahan fisik, ekonomi maupun ideologi asing.

Akankah terwujud? Melihat realitas sosial, rakyat bersedia berubah menjadi lebih baik. Rakyat mau mengantarkan Indonesia mengulang masa keemasan seperti terjadi zaman kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.

Pertanyaannya, kenapa pemerintah sebagai penyelenggara negara tidak mendaraskan dirinya menjadi pembimbing, pembombong dan pemomong rakyatnya demi menuju Indonesia yang merdeka lahir dan batin, berkeadilan serta bermartabat?

Rakyat Indonesia menginginkan penyelenggara negara yang terdiri dari pemerintah, pejabat publik dan anggota dewan bekerja nyata berdasarkan realitas sosial budaya yang ada. Bukan bekerja berlandaskan politik wacana, dan politik okol yang tidak berakal. Jika hal tersebut tidak segera diubah haluannya, maka okolisme, terorisme, dan radikalisme akan menjadi bencana besar bagi warga masyarakat.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pengamat Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Artikel ini dimuat di kolom Analisis harian Kedaulatan Rakyat, Minggu 15 Pon 2011.

Artikel yang berhubungan :

  1. (Analisis KR) Apa Kata Dunia?
  2. Ideologi Pengemis
  3. Menjadi 100% Indonesia
  4. Analisis KR: Lagi, Narkoba Lagi!
  5. (Analisis KR) Semiotika Ulat Bulu
  6. Pelayan Masyarakat
Tulisan ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>