(Analisis KR) Kesadaran Beriklan

Dr. Sumbo Tinarbuko

Di tengah penyelenggaraan Pilkada serentak, malapetaka ambruknya alat peraga kampanye (APK) akibat tiupan angin kencang menjadi trending topic beberapa waktu lalu. Peristiwa ambruknya APK yang secara fisik dikategorikan bagian dari iklan luar ruang, melengkapi realita warta buruk terkait pola pemasangan iklan luar ruang yang serampangan.

Sebelumnya, akibat pemasangan iklan luar ruang yang tidak mempertimbangkan aspek ergonomi dan konstruksi struktur beban tiang di ruang publik, billboard di Ringrod Utara dan Jalan Magelang tumbang. Kedua fakta ini semakin menguatkan tengara rendahnya kesadaran masyarakat dan pemerintah dalam beriklan, khususnya pemasangan iklan luar ruang.

Tengara ini muncul dan menguat karena pemilik merek, pemasar produk barang dan jasa, penyelenggara acara hiburan budaya populer dan lembaga pendidikan, saat menyampaikan pesan informasi dan pesan promosi meyakini mitos iklan luar ruang. Mitos tersebut meniupkan sihir: promosi dan informasi yang ditancapkan di ruang publik sangat efektif untuk menyampaikan pesan informasi dan promosi.

Munculnya mitos dan ideologi semacam itu, menyebabkan media iklan luar ruang didogmakan sebagai satu-satunya media yang dirasa ampuh. Di dalam media iklan luar ruang, ditiupkanlah ruh kehidupan untuk menyentuh sanubari target sasarannya. Beragam pesan verbal dan pesan visual ditebarkan di ruang publik. Warna warna menyolok dan jejeran huruf dalam cetakan besar ditorehkan di kanvas jalanan. Semuanya dilakukan demi menginformasikan keberadaan merek yang dijadikan energi bisnis mereka. Fenomena semacam itu, menjadi realitas sosial atas sebuah kekuatan bisnis yang merepresentasikan jatidiri dari produk barang dan jasa tersebut.

Ketika tebaran pesan politik kampanye Pilkada dan pesan komersial dari beragam merek dagang tersebut menggurita dan menjajah sebagian besar ruang publik, pada saat itulah bencana sosial berwujud sampah visual iklan politik dan iklan komersial pun mengancam semua warga di ruang publik. Ironisnya, banyak pihak menganggap bencana soial sampah visual iklan politik dan iklan komersial bukanlah sebuah bencana sosial.

Asumsi semacam itu didasarkan hukum sebab akibat. Secara fisik, akibatnya tidak memperlihatkan efek fisik dari bencana sampah visual tersebut. Pemerintah juga menganggap sepi akan bahaya sampah visual. Di mata pemerintah, keberadaan iklan luar ruang merupakan objek pajak yang sangat besar. Ia diposisikan sebagai pahlawan devisa menyumbang pundi-pundi pendapatan asli daerah.

Sudah menjadi rahasia umum, hubungan pemerintah dengan perusahaan pemilik merek dagang, perusahaan periklanan dan tukang pasang iklan luar ruang terjalin cukup mesra serta menguntungkan kedua belah pihak. Keuntungan yang sungguh membahagiakan adalah izin pemasangan iklan luar ruang sesuai kehendak hati sang pemasang iklan atas nama pemilik merek dagang. Kebahagiaan berikutnya, pemerintah mendapatkan pajak reklame yang menjadi andalan pendapatan asli daerah. Tetapi kalau kemesraan dan kebahagiaan yang terjalin antar parapihak tidak memberikan kebahagiaan bagi warga. Tentu masyarakat sebagai salah satu pilar kontrol sosial memiliki hak untuk mengingatkan carut marut yang menyebabkan munculkan bencana sosial akibat tebaran sampah visual iklan politik dan iklan komersial di ruang publik.

Agar bencana sosial akibat pemasangan iklan luar ruang yang serampangan tidak menimpa warga atau mengguna jalan raya, ada baiknya pemasangan iklan luar ruang harus ditata. Penataan terkait dengan tempat pemasangan dan konstruksi iklan luar ruang juga harus ditata sedemikian rupa. Penataan iklan luar ruang merupakan wujud kesadaran beriklan sebagai representasi pemenuhan hak pemerintah, pemilik merek dagang, pengusaha periklanan dan tukang pasang serta warga masyarakat. Terpenting, masyarakat harus memiliki hak hidup aman dan damai di jagad raya yang keberadaannya tidak dirusak oleh aksi nakal pemasangan iklan luar.

(Dr. Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di kolom Analisis harian Kedaulatan Rakyat, Kamis Kliwon, 5 Januari 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko | Twitter: @sumbotinarbuko | Facebook: @sumbotinarbuko)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *