(Analisis KR) Budaya Miskomunikasi

Dr Sumbo Tinarbuko

Masih butuh waktu dua bulan lagi untuk resmi memasuki tahun politik 2018. Tetapi realitas sosial di lapangan, hawa hati panas dalam jagat kehidupan patembayatan sosial warganet menunjukkan tingkat kepanasan yang meningkat tajam. Aura hati panas semacam itu mendorong suburnya aktivitas nyinyirisme, ujaran kebencian dan perang komentar yang ditayangkan lewat media sosial.

Hal paling baru misalnya, terlihat dari pidato Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang kemudian memunculkan polemik atas pemahaman kata pribumi. Narasi berikut cerita tentang Gubernur DKI Jakarta yang sengaja menerobos arus jalur one way Puncak Bogor. Lalu warta yang mengabarkan demo mahasiswa di depan Istana Presiden. Kabar sebelumnya tentang pembelian senjata api oleh pihak kepolisian yang berujung polemik panas antara tentara dengan polisi.

Belum lagi linimasa media sosial terpapar perang komentar antara pihak yang kontra melawan kubu pro atas pernyataan kontroversial yang dikumandangkan beberapa menteri berkaitan dengan peraturan menteri yang dinilai kontraproduktif. Sedangkan yang tidak pernah surut dan selalu melambung di linimasa media sosial adalah komentar atas komentar yang kemudian dikomentari oleh pejabat publik, tokoh masyarakat atau anggota dewan. Komentar atas komentar tersebut kemudian digoreng oleh warganet bertopeng haters. Hasilnya, berwujud menu sajian ujaran kebencian yang bermuara pada senandung lagu bernada nyinyirisme.

Atas semua produk komunikasi yang dimediasikan lewat media sosial menyebabkan hampir semua warganet penganut ideologi nyinyirisme berteriak lantang di media sosial. Mereka mendaku komentar serta pendapat pribadi dan geng kelompoknya adalah paling benar serta dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika komentar subjektif digoreng lalu dibalas dengan komentar yang super subjektif oleh warganet bertopeng haters. Pada titik ini ditengarai terjadinya penurunan kualitas budaya komunikasi secara horizontal antarumat manusia. Dengan demikian dapat dikatakan telah terjadi pergeseran nilai budaya secara signifikan.

Tanda zaman semacam itu muncul lewat penanda zaman berupa minimnya pagu mutu komunikasi antar warganet dengan sesamanya. Ujungnya, sosok miskomunikasi menjadi representasi mitos atas miskinnya kualitas budaya komunikasi. Hebatnya, representasi mitos tersebut mendapatkan dukungan gegap gempita dari warganet berwajah haters.

Mitos semacam itu mencapai klimaksnya saat proses komunikasi dialogis kehilangan akar budaya. Artinya, pendukung miskomunikasi lebih mengedepankan lelaku egoisme individual atau golongan. Kepekaan dan kepedulian terhadap harkat hidup masyarakat yang lebih besar seolah hablur ditelan angin puting beliung. Seluruh lapisan masyarakat gagap menjalankan sebuah jalinan komunikasi yang komunikatif dan membahagiakan.

Dampak fenomena miskomunikasi senantiasa menghantui proses dialogis antara warganet dengan warga masyarakat. Fenomena miskomunikasi juga mengganggu budaya komunikasi yang sudah terjalin apik antara rakyat jelata dengan pemerintah, pejabat publik, dan anggota dewan. Fenomena miskomunikasi yang menemui jalan buntu, serta merta bersalin wajah menjadi sengketa kekerasan senggol bacok di kalangan klas bawah kelompok masyarakat heterogen.

Perbedaan persepsi yang dipicu oleh fenomena miskomunikasi seringkali mengganjal ekspresi komunikasi antara orangtua dengan buah cinta kasihnya. Fenomena miskomunikasi juga menjadi pemantik perang dingin konflik pasangan suami istri. Fenomena miskomunikasi pun menjadi kabel penghantar permusuhan dan sentimen pribadi antara murid dengan guru, mahasiswa dengan dosen, dan anak buah dengan pimpinannya.

Guna menangkal fenomena miskomunikasi yang sudah dikategorikan sebagai bencana sosial, upaya merangkul budaya komunikasi sebagai komponen utama saat menjalankan prosesi komunikasi, menjadi kebutuhan mutlak untuk disegerakan. Keberadaannya pun setiap saat harus senantiasa dikuatkan.

Hal itu penting dilakukan guna menghindari konflik horizontal antara warganet dengan warga masyarakat. Wajib juga dilakukan untuk meredam perseteruan sosial antara rakyat jelata dengan pemerintah, pejabat publik, anggota dewan dan tokoh masyarakat

Sejatinya, jagat budaya komunikasi mengajak kita secara damai untuk senantiasa merangkai kepingan puzzle pesan verbal dan pesan visual. Sebelumnya diawali dengan menuliskan teks verbal dan teks visual saat menjalankan proses komunikasi. Selain itu, budaya komunikasi selalu menjalankan kerja kolaborasi antara kemampuan berbahasa dan kepiawaian dalam mengemudikan proses komunikasi. Ketika kerja kolaborasi penuh kerukunan seperti ditawarkan budaya komunikasi ini dijalankan dengan seksama, hasilnya tidak akan menciptakan fenomena miskomunikasi yang mengerikan itu.

(Dr Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di kolom Analisis KR Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu, 15 November 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko, Facebook: @sumbotinarbuko)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *