(Analisis KR) Angka dalam Pilkada

Dr Sumbo Tinarbuko

Mencermati kampanye Pilkada Yogyakarta lewat agenda sapa warga. Mulai blusukan dari kampung ke kampung dan bantaran sungai. Bertemu calon pemilih di pasar tradisional. Terlihat peserta Pilkada senantiasa mengacungkan jari jemarinya. Acungan jari jemari tersebut dimaksudkan merepresentasikan dirinya sebagai calon walikota berdasarkan nomer undian yang dikeluarkan KPUD Yogyakarta.

Bagi calon walikota nomer pilihan satu. Ia mengangkat jari telunjuknya. Hal itu dilakukannya untuk mengajak calon pemilih agar mencoblos kartu suara urutan nomer satu. Hal serupa dilakukan calon walikota urutan nomer dua. Ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan. Artinya, secara komunikasi visual, ia mengarahkan calon pemilih untuk memilih nomer urut dua.

Peserta Pilkada DKI Jakarta, saat bertemu warga juga acungkan jari jemarinya. Tujuannya memantik ingatan calon pemilih atas nomer undian yang didapatkannya. Hal sama terjadi ketika menyaksikan debat kandidat calon gubernur DKI Jakarta. Moderator seringkali menyebut angka pasangan calon nomer 1, 2 atau 3, ketimbang menyapa nama mereka.

Acungan jari jemari tersebut menjadi fenomena menarik dalam komunikasi visual Pilkada. Mereka memposisikan jari jemari sebagai ikon visual atas dirinya. Ikon itu merujuk pada nomer pilihan yang terpampang di kertas suara.

Mengapa dianggap fenomena menarik? Secara komunikasi visual angka dalam Pilkada menjadi penanda visual yang sederhana, solid dan jitu. Nomer urut peserta Pilkada dinilai lebih komunikatif. Mudah diingat sebagai simbol penghubung imajiner antara peserta Pilkada dengan logo dan nama parpol pengusung calon kepala daerah.

Bagi calon pemilih, angka dalam Pilkada sanggup menyederhanakan keseluruhan persepsi visual atas logo dan nama parpol pengusung peserta Pilkada. Dengan demikian angka dalam Pilkada dapat diposisikan sebagai panglima perang untuk mempersepsikan peserta Pilkada 2017 secara komunikasi visual.

Ketika angka dalam Pilkada disepakati sebagai salah satu simbol komunikasi visual politik. Maka keberadaannya harus dihidupkan oleh berbagai unsur terkait agar simbol tersebut tetap hidup. Artinya, eksistensi sang pemilik angka dalam Pilkada harus ditopang jalinan jejaring sosial yang tangguh di tingkat akar rumput. Lewat jejaring sosial yang terpilin rapi dan kuat, tentu akan menjelma menjadi selembar tenunan kain nan cantik.

Analogi semacam itu mengkonotasikan mereka yang puluhan tahun sebelumnya telah mengabdikan diri dan berkarya nyata di tengah masyarakat. Rumusnya, jika seseorang ingin menjadi kepala daerah. Sebelumnya ia harus mau kerja keras dan cerdas agar dikenal masyarakat. Hasil kerja keras dan pemikirannya yang cerdas menjadi modal sosial. Kelak, hasil pembiakan modal sosial tersebut mampu mengangkat nama dan reputasinya. Tentu saja kerja keras itu bukan dalam hitungan bulan atau setahun sebelum Pilkada. Mereka sudah memulai bekerja keras sejak sekarang untuk Pilkada 10-15 tahun mendatang.

Cara mempromosikan kerja keras dan cerdas paling efektif adalah dari mulut ke mulut. Ditopang testimoni parapihak yang mendapatkan manfaat atas kebaikan kerja keras dan cerdas dari calon kepala daerah.

Untuk memperluas jangkauan promosi atas kerja keras dan cerdas, tentu tidak ada salahnya menggunakan media iklan. Penyertaan iklan politik seyogianya diposisikan sebagai media pengingat atas modal sosial yang dijalankannya. Pemanfaatan iklan politik sama halnya dengan laku investasi. Yang ditanam sebagai modal sosial laku investasi adalah melayani lewat tebaran kebaikan dan kebermanfaatan untuk seluruh masyarakat.

Bagi calon pemilih, angka dalam Pilkada. Nomer urut calon kepala daerah. Iklan politik dalam kemasan alat peraga kampanye. Semuanya itu hanyalah upaya mereka untuk memperkenalkan dirinya kepada calon pemilih.

Terpenting yang harus mereka lakukan dalam konteks Pilkada adalah kerja nyata. Berlaku jujur dan merakyat. Hasil investasi modal sosial tersebut harus memberikan kebermanfaatan yang baik dan kebaikan yang bermanfaat bagi masyarakat yang dilayani serta diayominya. Untuk hal ini, masyarakat sudah sangat cerdas ketika memilah dan memilih angka dalam Pilkada mendatang.

(Dr Sumbo Tinarbuko adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta | Artikel ini dimuat di kolom Analisis KR Harian Kedaulatan Rakyat, 3 Februari 2017 | Follow Instagram: @sumbotinarbuko, Twitter: @sumbotinarbuko, Facebook: @sumbotinarbuko)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *