Alun-alun Utara di antara Daster, Bakso, dan Mie Ayam

Belakangan ini,  pekarangan Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dijadikan ‘proyek pengembangbiakan’ tenda biru oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Di bawah tenda biru digelar beragam pakaian rumahan: daster, rok, baju, dan celana santai dari kain batik, atau kaos. Dijajakan pula salak pondoh, bakpia, mie ayam, bakso, dan barang cenderamata Yogyakarta.

Dari hari ke hari, tempat ini  makin kumuh dan tidak terkendali. Alun-alun Utara bagaikan kawasan tidak bertuan. Karena siapa pun dihalalkan menjadi ‘’penguasa’’. Oleh parapedagang kakilima (PKL) Alun-alun Utara dimandulkan dari fungsinya sebagai pekarangan milik Kraton Ngayogyakarta dan ruang publik hijau yang boleh dimanfaatkan warga Yogyakarta untuk reriungan sambil menikmati pemandangan alam anugerah Yang Maha Kuasa.

Sementara itu, kurun satu bulan ini, di Alun-alun Utara  jika matahari memancarkan sinarnya, menjadi pasar siang. Para PKL dengan tenangnya menyambut parawisatawan seraya menggelar aneka pakaian santai murah meriah terbuat dari kain batik. Di sela itu bermekaran pula warung bakso, mie ayam dan es campur yang diyakini mampu meninggikan tensi hiruk pikuk pasar kaget tersebut.

Ketika malam hari tersenyum seksi, Alun-alun Utara bermetamorfosa menjadi pasar malam dengan sinaran neon 20 watt dan kerlap-kerlip lampu petromaks. Selain memajang beragam sandang, makanan dan cenderamata, tenda biru marak dengan hadirnya warung angkringan, lesehan jagung bakar, gerobak kacang tanah, singkong  rebus, wedang ronde, rokok dan air mineral serta pengemudi  becak yang berjanji menghantarkan penumpangnya untuk keliling kota Yogyakarta.

Dilihat dari ekonomi kerakyatan, ruang publik hijau ini konon mampu menyelamatkan kehidupan beragam manusia yang mengais rejeki di sana. Ironisnya, mereka yang diselamatkan itu menjejalinya dengan onggokan barang dagangan. Mereka yang telah diselamatkan oleh keberadaan Alun-alun Utara dan Kraton tidak tahu berterima kasih. Mereka egois dan mengesampingkan aspek kemanusiaan. Sementara pilar kemanusiaan adalah: mampu hidup berdampingan dengan aman dan nyaman, saling menghormati, dan mengedepankan unsur tenggang rasa.

Dalam konteks ini, ternyata para PKL sudah kehilangan roso kamanungsan. Terbukti tidak mau mengedepankan aspek tenggang rasa yang merupakan jatidiri orang Jawa.  Tercatat seenaknya menguasai pekarangan Kraton secara ilegal. Terbukti mereka tidak menghormati dan ewuh pakewuh dengan Sultan HB X dan kerabatnya sebagai pemilik sah. Yang dilakukan justru mengotori dan menganggu tatanan sosial spiritual Kraton.

Jika dibidik dari aspek kenyamanan, estetika keindahan dan tataruang kota, tempat ini telah diubah wajahnya oleh PKL menjadi ‘’tempat sampah’’ raksasa yang selalu mengebulkan bau tak sedap. Fenomena ini mengganggu warga dan kerabat Kraton Ngayogyakarta. Aroma tidak sedap semakin menjadi-jadi memasuki akhir pekan, atau libur panjang.

Konotasi ‘’Aroma  sampah’’ tidak sedap terdeteksi lewat taburan tenda biru, bambu dan temali menjuntai semrawut. Ratusan tenda biru yang dipancangkan secara anarkis menyergap dan mengerdilkan Kraton sebagai pusat peradaban budaya Jawa yang adiluhung.

Selain itu, area ini dijajah puluhan bus pariwisata yang diparkir lintang pukang. Apalagi ketika parawisatawan keluar dari bus, mereka diserbu pengemudi becak yang menjajakan jasanya mengantarkan berbelanja oleh-oleh dan cenderamata di  tempat yang menyediakan barang penanda kota Yogyakarta. Akibatnya, Alun-alun Utara menjadi semrawut, macet, dan kumuh. Hal ini membuat warga risih dan malu untuk menatapnya. Warga Yogyakarta menjadi enggan bertandang ke sana walau hanya reriungan, cuci mata, atau sekadar menikmati pemandangan alam semesta.

*)Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pengamat Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.

Artikel yang berhubungan :

  1. Malioboro Yogyakarta: Dibenci Sekaligus Dirindukan!
  2. Malioboro Terlihat Seksi
  3. Malioboro Oh Malioboro
  4. Tepat, tetapi Tidak Benar…
  5. saatnya berlabuh
  6. (ANALISIS KR) Semiotika Gaya Yogya
Tulisan ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>